BI Akan Tandatangani Swap Arrangement Dengan Cina
Kamis, 01 Sep 2005 19:52 WIB
Jakarta -
Bank Indonesia (BI) akan menandatangani perjanjian swap arrengement dengan Pemerintah Cina paling lambat pada Oktober 2005 bersamaan berlangsungnya G20 Meeting di negara Tirai Bambu tersebut.Penandatanganan perjanjian ini dalam rangka implementasi dari Chiangmai Initiative. Penandatangan ini sama dengan perjanjian bilateral swap yang telah ditandatangani oleh Menteri Keuangan Jusuf Anwar, pada 30 Agustus kemarin di Tokyo."Presiden minta apa bisa dipercepat. Saya kira bisa. Kita usahakan bulan September ini bisa kita tandatangani. Kalau tidak, mungkin Oktober," ungkap Gubernur BI Burhanudin Abdullah, usai diterima Presiden Susilo Bambang Yudhoyono petang ini di Kantor Presiden, Jl Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat, Kamis (1/9/2005).Dijelaskannya, saat ini pemerintah RI dan Cina telah memiliki kesepakatan awal untuk pemberian pinjaman valuta asing sebesar US$ 1 miliar. Saat ini tengah dibicarakan teknis perjanjian itu sendiri, seperti besarnya bunga dan jangka waktu pinjamannya."Kalau itu bisa dilaksanakan dalam dua minggu, akan ada negosiasi detailnya, maka kita akan menandatanganinya di Washington. Dubes Cina berjanji meneruskan ke pemerintah Cina dan hasilnya disampaikan langsung pada saya," tambah Burhan.Perlu diketahui, swap arrangement adalah suatu kerjasama secara regional antara negara-negara ASEAN dengan Cina, Korea, dan Jepang. Tujuannya sebagai satu usaha menjaga stabilitas nilai tukar makro ekonomi di kawasan ASEAN.Uang yang dipladge dalam swap arrangement adalah suatu bentuk pertahanan garis kedua. Pertahanan garis pertama adalah kebijakan yang diambil pemerintah, bank sentral plus cadangan devisa yang dimiliki. Swap arrangement dapat diaktivasi jika benar-benar diperlukan.
(atq/)










































