Sekjen PSI Raja Juli Antoni menyayangkan kubu Prabowo-Sandiaga yang dinilainya kerap menggunakan terminologi yang tidak pas. Terutama dalam membangun narasi demokrasi.
"Berkali-kali kubu Pak Prabowo menggunakan terminologi yang tidak pas dalam membangun narasi demokrasi. Narasi yang keluar sangat buruk, penuh permusuhan, dan memecah belah," ujar Antoni dalam keterangan tertulis, Selasa (11/12/2018).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Wakil Sekretaris Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma'ruf Amin itu menilai terminologi yang tidak pas tersebut menjadikan narasi yang disampaikan penuh permusuhan dan rentan memecah belah. Hal itu, kata dia, tidak sejalan dengan pemilu damai yang selama ini didengungkan.
"Narasi yang dikembangkan buruk, penuh permusuhan, dan memecah belah. Padahal sejatinya pemilu adalah mekanisme damai untuk mencari pemimpin yang terbaik. Sebuah kompetisi biasa memilih pembantu rakyat terbaik yang akan melayani rakyat selama lima tahun," katanya.
Menurut Antoni, jika kubu Prabowo-Sandiaga memahami prinsip demokrasi, penamaan posko pemenangan haruslah lebih bijaksana. "Cukup kantor pemenangan mereka sebut RUMAH SOLIDARITAS, POSKO GOTONG ROYONG, POSKO RELAWAN, dan istilah-istilah menyimbolkan sebuah kompetisi sehat dan fair play," kata Antoni.
Seperti diberitakan sebelumnya, BPN Prabowo-Sandi berencana mendirikan posko pertempuran di Solo. Alasannya, Solo merupakan lokasi paling strategis untuk menjangkau seluruh daerah di Jawa untuk mengoptimalkan perolehan suara dalam memenangi pilpres mendatang.
Saksikan juga video 'Keprihatinan Jokowi Terhadap Permusuhan Jelang Pilpres':
(mae/tor)











































