Mengenang Munir dengan Aksi Mogok Makan
Kamis, 01 Sep 2005 15:59 WIB
Medan - Beberapa hari lagi, genap satu tahun meninggalnya aktivis HAM, Munir. Di Medan, peringatannya dilakukan dengan cara menggelar aksi mogok makan di depan Kantor DPRD Sumatera Utara (Sumut), Jalan Imam Bonjol, Kamis (1/9/2005). Pelaku mogok makan terdiri dari tiga orang. Mereka adalah Oslan Purba (30) yang juga Koordinator Kontras Sumatera Utara, kemudian dua orang lainnya Syaiful Amri (49) dan Dahrani Nasution, wanita berusia 37 tahun. Mereka menamakan diri Solidaritas Rakyat Anti Kekerasan (Sorak).Mereka menggelar dua tenda di trotoar yang berada di depan gedung DPRD Sumut. Di pagar gedung dewan, dipajang sebuah spanduk merah bertulis "Hentikan Kekerasan Negara Terhadap Rakyat, Tegakkan Demokrasi."Menurut Oslan, aksi ini memang mengambil momentum jelang 7 September 2005, persis satu tahun meninggalnya Munir. "Kasus kematian Munir bukanlah hanya masalah pelanggaran HAM semata, tetapi juga wujud banyaknya kekerasan yang terjadi di Indonesia," kata Oslan kepada wartawan.Menurut Oslan, aksi mogok makan ini dilakukan untuk menuntaskan berbagai persoalan kerakyatan yang belum juga tuntas di dalam negeri. Budaya kekerasan yang berlangsung di Indonesia seolah sudah permisif. Munir merupakan salah satu kasus dari sekian banyak kasuslainnya, termasuk Semanggi, Tanjung Priok, Talang Sari, Lampung, Ambon dan Papua.Sebab itu, dalam pernyataan sikapnya, para pemogok makan ini juga menuntut diusutnya secara tuntas kematian Munir, meminta pemerintah menangkap dan mengadili jenderal-jenderal pelanggar HAM sejak zaman orde Baru, serta menangkap dan mengadili para koruptor. Selain itu juga mereka juga mendesak pemerintah menuntaskan kasus-kasus kekerasan yang terjadi di Sumatera Utara, terutama yang dilakukan PT Perkebunan Nusantara II yang membakar tempat tinggal dan ladang masyarakat di sejumlah kawasan di Kabupaten Deli Serdang.
(asy/)











































