"Jadi seharusnya mengkritisi pemerintahan itu bukan dengan data hoax atau dengan menarasikan bahwa perekonomian buruk. Harga-harga lebih mahal dari Singapura, 99 persen rakyat hidup pas-pasan, tempe setipis ATM, dan lain-lain atau malah menakut-nakuti bahwa Indonesia bubar pada 2030," ujar Ketua DPP Hanura Inas Nasrullah Zubir kepada wartawan, Senin (10/12/2018).
Selain menyebutkan kritik soal harga bahan kebutuhan pokok dan 'Indonesia bubar 2030', Inas mengungkit ucapan Prabowo tentang 'tampang Boyolali'. Inas menilai Prabowo-Sandi bertingkah murahan.
"Semua itu diucapkan oleh pasangan Prabowo-Sandi yang seharusnya berkata dan bertingkah laku sebagai negarawan dan bukan murahan, bertingkah bak politikus sontoloyo yang omongannya ngalor-ngidul tanpa data dan fakta yang akurat," sebut dia.
Jokowi dalam pidato saat membuka Konvensi Humas 4.0 di Istana Negara, Jakarta, siang tadi menyebut memang butuh kritik, tapi yang berbasis data. Pembodohan atau kebohongan, lanjut Jokowi, tak diperlukan, termasuk narasi yang menyebarkan ketakutan kepada rakyat.
Menurut Inas, dalam pembicaraan itu Jokowi telah bersikap jujur. Karena itu, dia pun berharap kritik yang datang kepada pemerintah benar-benar berdasarkan data.
"Pak Jokowi sudah sangat jujur mengatakan masih banyak yang kurang dilakukan oleh pemerintah. Karena itu, dibutuhkan kritik membangun yang berbasis data akurat dan fakta yang benar agar cita-cita reformasi dapat tercapai," tegas Inas. (tsa/rna)











































