"Upaya translokasi gajah liar tersebut sudah direncanakan sejak 17 bulan lalu. Gajah yang sudah lebih dari lima tahun terisolasi di perkebunan warga ini kita evakuasi setelah berhasil kita tangkap menggunakan senjata bius," kata Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh Sapto Aji Prabowo kepada wartawan, Senin (10/12/2018).
Gajah yang diberi nama Septi ini dievakuasi setelah terjebak sekitar lima tahun di perkebunan warga di Desa Tangga Besi, Kecamatan Simpang Kiri, Kota Subulussalam. Operasi evakuasi melibatkan 35 personel gabungan dari BKSDA Aceh, Dinas LHK Aceh, KPH Wilayah 6, WCS, FKL, OIC, dan didukung Direktorat KKH Direktorat Jenderal KSDAE, PKSL Unsyiah, Usaid Lestari, serta BCCPGLE KFW.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Proses evakuasi gajah bernama Septi. (Dok. BKSDA Aceh) |
Menurut Sapto, proses evakuasi tersebut dilakukan sejak Kamis (6/12). Tim butuh waktu sekitar tiga hari untuk menangkap dan menembak bius Septi. Personel gabungan baru berhasil membawa naik gajah itu ke truk pada Minggu (9/12) kemarin. Selanjutnya, gajah Septi diangkut ke lokasi translokasi di hutan lindung Bengkuang, yang berjarak sekitar 20 kilometer.
Gajah Septi tiba di lokasi pelepasan pagi tadi, sekitar pukul 10.00 WIB. Petugas juga sudah memasang GPS Collar pada gajah itu untuk memantau pergerakannya.
"Evakuasi dilakukan tengah malam hingga pagi untuk menghindari sengatan matahari yang bisa membahayakan keselamatan gajah," jelas Sapto.
BKSDA berharap gajah Septi dapat bergabung dengan kelompok gajah yang ada di Bengkung, yang diperkirakan jumlahnya sekitar 10 ekor. "Jika Septi bisa bergabung ke kelompok gajah Bengkung, akan sangat bagus untuk meningkatkan keragaman genetis kelompok gajah ini," ungkap Sapto.
Sapto menuturkan evakuasi gajah ini sudah direncanakan sejak 17 bulan lalu. Namun beberapa kali tertunda karena tidak ada akses ke lokasi pelepasan di Hutan Bengkung. Lokasi ini terletak di perbatasan Aceh Selatan dan Subulussalam.
"Bahkan sempat muncul ide dari sebuah LSM luar negeri untuk memindahkan menggunakan helikopter, tapi urung dilaksanakan karena persoalan teknis. Namun harapan muncul dengan adanya pembukaan perkebunan PT ISP yang membuat akses ke Bengkung menjadi terbuka," ujar Sapto. (agse/tor)












































Proses evakuasi gajah bernama Septi. (Dok. BKSDA Aceh)