Dekati Lebaran, Kenaikan BBM Setelah Oktober Tak Tepat
Kamis, 01 Sep 2005 10:54 WIB
Jakarta - Pemerintah perlu mempertimbangkan secara masak rencana kenaikan harga BBM setelah Oktober. Pasalnya kenaikan setelah bulan itu akan memancing melonjaknya harga, apalagi berbarengan dengan Lebaran, Natal dan Tahun Baru."Rencana kenaikan harga BBM itu perlu diperhitungkan masak-masak, apalagi menjelang Lebaran dan Natal, karena tentu akan berpengaruh terhadap target inflasi," kata Anggota Panitia Anggaran DPR RI dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (FPKS) Rama Pratama kepada detikcom, Kamis (1/9/2005).Berdasarkan tahun kalender, awal puasa diperkirakan jatuh pada 5 Oktober 2005, sehingga Lebaran akan jatuh pula pada 5 November 2005. Pada masa bulan puasa dan Lebaran, biasanya tekanan kenaikan harga (inflasi) semakin tinggi. Tekanan ini akan bertambah ketika memasuki bulan Desember saat terjadi perayaan Natal dan Tahun Baru. Kondisi ini tentunya akan bertambah runyam karena harga-harga akan semakin melambung jika dibarengi dengan pengumuman pemerintah untuk menaikkan harga BBM. Pasalnya kenaikan harga BBM pada Maret lalu juga berdampak pada kenaikan harga yang cukup signifikan.Disebutkan pula oleh Rama, sejumlah asumsi APBN-P 2005 juga mengalami perubahan. Berdasarkan hasil kesepakatan terakhir Panja A dengan pemerintah, nilai tukar rupiah disepakati Rp 9.800 per dolar AS, tingkat inflasi 8,5 persen, bunga SBI 8,4 persen, harga minyak US$ 54 per barel dan defisit 0,9 persen."Dengan menggunakan asumsi itu, maka masih ada financial gap sebesar Rp 25,1 triliun untuk memenuhi target defisit sebesar 0,9 persen," jelasnya.Oleh karena itu pemerintah didorong untuk menggenjot penerimaan perpajakan dan efisiensi pengeluaran dengan memotong belanja departemen secara signifikan.
(san/)











































