DetikNews
Jumat 07 Desember 2018, 16:28 WIB

Kembangkan Garam Rakyat, Bupati Serang Belajar Budidaya ke Aceh

Nabilla Putri - detikNews
Kembangkan Garam Rakyat, Bupati Serang Belajar Budidaya ke Aceh Foto: Pemkab Serang
Jakarta - Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) tahun depan berencana memberikan bantuan program pengembangan usaha garam rakyat terintegrasi ke Kabupaten Serang.

Bupati Serang Ratu Tatu Chasanah dan Wakil Bupati Pandji Tirtayasa pun meresponsnya dengan belajar langsung budidaya garam ke Kabupaten Pidie Jaya, Provinsi Aceh demi program sukses.

"Kami ingin belajar dari Pidie Jaya dalam hal pengembangan budidaya garam," ujar Tatu dalam keterangan tertulis, Jumat (7/12/2018).

Ratu Tatu mengungkapkan Kabupaten Serang memiliki potensi yang strategis untuk mengembangkan usaha tambak garam rakyat. Terdapat 300 hektare lebih lahan tambak yang belum produktif dan potensial untuk dijadikan sebagai usaha tambak garam.

Saat kunjungan , Ratu Tatu dan rombongan disambut langsung Bupati Pidie Jaya Aiyub Abbas di kantornya. Kemudian, Tatu diajak melihat lokasi budidaya garam kurang lebih seluas 36 hektare di Pidie Jaya yang sudah lebih dulu mendapat bantuan KKP.

Di Jawa memang terdapat daerah yang dekat dengan Banten dalam hal budidaya garam, yakni Indramayu. Namun, yang telah sukses mendapat program pengembangan usaha garam rakyat terintegrasi yakni Pidie Jaya dan merupakan daerah yang masih dinilai miskin dan terus mendapat dukungan pemerintah pusat.

Pidie Jaya baru berusia 11 tahun yang merupakan pemekaran dari Kabupaten Pidie, bahkan butuh waktu tempuh sekira 3,5-4 jam dari Banda Aceh. Kabupaten Serang ingin seperti Pidie Jaya yang pada tahun anggaran 2018 menjadi daerah yang menerima bantuan dari KKP.

"Garam merupakan komoditi ekonomi yang memiliki pasar luas, memiliki harga kompetitif, dan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat," ujarnya.

Bupati Pidie Jaya Aiyub Abas mengatakan, petani garam di Pidie Jaya sudah merasakan manfaat dari program yang digulirkan oleh KKP. Bahkan terdapat lahan budidaya garam yang dikelola oleh badan usaha milik desa (Bumdes).

"Kami terbuka untuk saling belajar terkait berbagai program pemerintah. Usia Pidie Jaya baru 11 tahun, kami pun belajar dari Kabupaten Serang yang sudah berusia lebih dari 400 tahun," ungkapnya.

Sekadar diketahui, KKP saat ini sedang mengembangkan budi daya garam dengan sistem Teknologi Ulir Filter (TUF) dan pemasangan geomembran di tambak garam. Sehingga, sistem ini bisa menguntungkan bagi petani. Diperkirakan, seluas satu hektare tambak garam, bisa menghasilkan keuntungan hingga Rp 130 juta per hektare. Sementara dengan sistem tradisional hanya Rp 30 juta per hektare, atau produktivitasnya bisa naik hingga 400 persen.

Lahan garam seluas satu hektare terdiri dari saluran pemasukan air dan tandon air yang ada di sisi lahan, petakan ulir yang dihubungkan dengan filter, serta 14 meja kristalisasi garam. Terintegrasi karena terdapat industri pengolahan hingga ketersediaan gudang untuk menstabilkan harga garam di pasaran.


Tonton juga ' Punya Garis Pantai Terpanjang, Tapi Kok Indonesia Masih Impor Garam? ':

[Gambas:Video 20detik]


(mul/mpr)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed