DetikNews
Rabu 05 Desember 2018, 15:41 WIB

Antisipasi Teror Saat Natal, Kemenhub Buka Posko di 36 Bandara

Arief Ikhsanudin - detikNews
Antisipasi Teror Saat Natal, Kemenhub Buka Posko di 36 Bandara Konpers di Kemenhub (Foto: Arief Ikhsanudin/detikcom)
Jakarta - Kementerian Perhubungan (Kemenhub) akan membuka posko di bandara-bandara yang ramai digunakan saat mudik natal dan tahun baru 2019 (Nataru). Posko gabungan itu dilakukan untuk mengantisipasi gangguan-gangguan keamanan termasuk terorisme.

"Upaya lain ancaman terorisme, kita lakukan posko terpadu yang melibatkan aparat di setiap bandara. Semua stakeholder baik regulator maupun operator lebih tingkatkan diri dalam pelayanan," ucap Sesditjen Perhubungan Udara Kemenhub, Nur Isnin kepada wartawan di kantornya, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Rabu (5/12/2018).


Posko tersebut akan dibuka saat masa arus natal dan tahun baru dari tanggal 20 Desember 2018, sampai 6 Januari 2019. Diharapkan, penumpang akan merasa aman menggunakan angkutan udara.

"Bandara udara yang akan dipantau ada 36 bandara domestik dan 7 internasional," ucap Nur.

Selain itu, Kementerian Perhubungan memprediksi terjadi peningkatan penumpang dari Nataru tahun sebelumnya. Prediksi kenaikan terjadi di penerbangan domestik maupun internasional.

"Untuk penerbangan domestik prediksi tahun ini sekitar 5.682.791 penumpang atau naik 9,12 persen. Sementara untuk internasional sebanyak 854.326 penumpang atau naik sekitar 6,45 persen. Total seluruhnya adalah 6.537.119 persen atau naik 8,76 persen," ujar Nur.

Sebagai antisipasi kenaikan penumpang itu, telah disiapkan 544 pesawat dari 13 badan usaha angkutan udara. Total kapasitas tempat duduk selama masa Nataru sebanyak 8.923.932.


Sementara itu, Kemenhub pun mengeluarkan kebijakan yang harus dipenuhi oleh setiap stakeholder. Salah satunya tentang pengecekan pesawat.

"Kebijakan dan strategi seperti ramp inspection terhadap seluruh armada, personil, sarana dan sarana serta prosedur. Penambahan jam operasional bandara jika dibutuhkan. Penggunaaan pesawat dengan tipe yang lebih besar untuk penerbangan reguler dan ekstra," kata Nur.

"Pengawasan tarif batas atas dan batas bawah. Penghentian sementara overlay dan sisi udara. Kemudahan dalam penerbitan persetujuan terbang dalam kondisi Kahar. Serta, optimalisasi penggunaan slot time dan memastikan, airlines tidak keep slot," sambung Nur.
(aik/rna)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed