DetikNews
Senin 03 Desember 2018, 06:05 WIB

Siapa yang Memata-matai Komunitas LGBT Indonesia?

Pasti Liberti - detikNews
Siapa yang Memata-matai Komunitas LGBT Indonesia? Foto: Drew Angerer/Getty Images
Jakarta - Panggil saja dia Teguh. Teguh bersama Hartoyo dan teman-temannya aktif di Suara Kita, organisasi yang memperjuangkan hak-hak komunitas LGBT (lesbian, gay, biseksual, dan transgender) di Indonesia dan melawan perlakuan diskriminatif terhadap mereka.

Teguh hanya bisa berkomentar singkat saat kepadanya ditunjukkan satu penggalan berita dari Haareetz, media asal Israel, yang diunggah di situsnya beberapa pekan lalu. "Wow....Aku nggak bisa berkata apa-apa," ujar Teguh, kepada detikX, beberapa hari lalu. Berita itu memuat hasil investigasi wartawan Haaretz selama berbulan-bulan terhadap perusahaan-perusahaan Israel yang menjual spyware alias perangkat penyadapan.

Haaretz mengaku mewawancara lebih dari 100 narasumber di 15 negara yang menjadi pelanggan spyware buatan Israel, mulai dari Indonesia, Malaysia, Thailand, Meksiko, India, Arab Saudi, Mesir, sampai Botswana. Terkait dengan perangkat 'mata-mata' yang dijual ke Indonesia, wartawan dari Israel mewawancara tiga narasumber yang paham soal penjualan dari perusahaan itu, Verint System.

Meski didirikan oleh warga Israel dan sekitar separuh dari karyawannya berkantor di Herzliya Pituah, Israel, perusahaan ini menjual sahamnya di bursa saham Amerika dan berkantor pusat di Melville, New York. Haaretz tak menyebut lembaga apa di Indonesia yang membeli dan memakai produk Verint. Seorang sumber mengatakan, produk Verint dipakai oleh lembaga itu untuk memata-matai para aktivis komunitas LGBT dan kelompok minoritas agama.

Salah satu sumber menuturkan dia pernah datang ke Indonesia untuk membantu mengajarkan cara mengoperasikan perangkat itu. "Begitu tiba di negara Indonesia, aku diminta membantu investigasi kasus yang sedang macet. Ternyata kasus itu terkait dengan seorang tokoh publik yang terkena kasus penistaan agama," kata Natanel, bukan nama sebenarnya.

Sebagai komunitas yang masih sulit diterima di Indonesia, menurut Teguh, dia dan teman-temannya paham bagaimana 'bermain aman' di internet dan sosial media. "Kami punya beberapa pelatihan dasar terkait keamanan digital," Teguh menuturkan. Satu hal misalnya bagaimana mengirim email yang aman. Suatu kali, situs SuaraKita, pernah dikerjain orang. Tapi berkat bantuan seorang teman, situs SuaraKita bisa pulih kembali. "Nggak tahu siapa pelakunya. Kami juga nggak punya niat mencari tahu. Situs bisa diakses lagi, ya sudah..."

Verint, menurut salah satu analis di perusahaan keamanan di Indonesia, merupakan pemain besar di bisnis itu. Verint punya kantor perwakilan di Menara Batavia, Jakarta. Di gedung itu, Verint satu kantor dengan PT Ciboodle Indonesia. Tulisan besar Verint terpampang besar di dinding lobi kantor yang terletak di lantai 26 Menara Batavia tersebut.

Ketika detikX datang dan menyampaikan tujuan untuk wawancara, resepsionis yang menyambut mengatakan PT Ciboodle Indonesia tak memiliki karyawan yang khusus mewakili perusahaan mengeluarkan pernyataan resmi soal Verint. Akhirnya kami meninggalkan sejumlah pertanyaan dan nomor telepon untuk disampaikan kepada petinggi perusahaan. Namun hingga tenggat tulisan, tetap belum ada jawaban dari PT Ciboodle Indonesia.

Siapa lembaga yang memata-matai komunitas LGBT ini, baca selengkapnya di DetikX, Siapa Memata-matai Komunitas LGBT Indonesia?



Simak video 'Klarifikasi Menag soal Video yang Terkesan Mendukung LGBT':

[Gambas:Video 20detik]


(pal/sap)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed