Kejamnya Media Dituding Picu Politikus Australia Bunuh Diri
Rabu, 31 Agu 2005 12:59 WIB
Jakarta -
Kejamnya media Australia dituding sebagai pemicu upaya bunuh diri yang dilakukan politikus ngetop negeri Kangguru itu, John Brogden. Sejak terbongkarnya perbuatan memalukan anggota parlemen itu, pers Australia terus-menerus mencercanya.Berita-berita yang menyudutkan Pemimpin Oposisi New South Wales itu ramai menghiasai halaman media cetak Australia. Bahkan setelah Brogden mengumumkan pengunduran dirinya pun, media masih saja gencar menyerang figur Partai Liberal itu.Buntutnya, Brogden yang tidak kuat menanggung malu, mencoba bunuh diri dengan menikam dirinya. Namun Tuhan berkehendak lain. Nyawa pria berusia 36 tahun itu berhasil diselamatkan. Demikian seperti dilansir harian lokal, Sydney Morning Herald, Rabu (31/8/2005).Brogden meletakkan jabatannya sebagai pemimpin oposisi setelah merebaknya berita mengenai perbuatannya yang rasis dan melecehkan. Politisi muda itu dikecam habis-habisan karena tingkahnya yang memalukan. Dia mencubit bokong seorang jurnalis perempuan di sebuah acara pesta. Brogden juga menyindir Helena Carr, istri tokoh politik Bob Carr, sebagai "pengantin yang dipesan lewat pos".Sejak munculnya kasus itu, Brogden kian menjadi sasaran empuk media. Surat kabar lokal, The Daily Telegraph bahkan telah mencetak tulisan mengenai perbuataan tidak senonoh yang juga pernah dilakukan Brogden terhadap sejumlah anggota staf perempuan di kantornya.Tidak tanggung-tanggung, berita itu dimuat di halaman depan edisi Rabu (31/8/2005) ini dengan judul "Masa Lalu Kotor Brogden". Dalam berita itu ditulis bahwa pria yang telah beristri itu pernah mengajak beberapa perempuan untuk berhubungan seks. Dia juga pernah melecehkan wartawan.Melihat tren ini, sejumlah anggota parlemen menyayangkan sikap media yang seharusnya berhenti menyudutkan Brogden setelah dia meletakkan jabatannya. Apalagi Brogden juga sudah minta maaf kepada orang-orang yang tersinggung atas perbuatannya.Bahkan Menteri Kesehatan Tony Abbott, yang dekat dengan Perdana Menteri (PM) John Howard, menyebut media "kejam". Namun News Ltd, penerbit The Daily Telegraph membela diri. Salah seorang direktur perusahaan, Greg Baxter, berdalih bahwa publik sangat ingin tahu mengenai riwayat Brogden. Apalagi cerita memalukan itu justru didapat dari sumber-sumber di Partai Liberal sendiri. "Masyarakat harus sangat berhati-hati untuk tidak menyalahkan Telegraph," cetus Baxter.
(ita/)










































