DetikNews
Minggu 02 Desember 2018, 15:36 WIB

Nostalgia Kuli Sindang: Gampang Dapat Kerja di Zaman Soeharto

Adhi Indra Prasetya - detikNews
Nostalgia Kuli Sindang: Gampang Dapat Kerja di Zaman Soeharto Ilustrasi: Foto Soeharto (Grandyos Zafna/detikcom)
Jakarta - Kuli sindang merasa semakin sulit mendapat kerja di Ibu Kota. Tercenung di pinggir jalan, pikiran mereka melayang ke dekade lampau, era Presiden ke-2 RI Soeharto.

Salah satunya Jarmin. Kakek 69 tahun ini masih menegakkan cangkul, belencong, dan pengkinya, berharap ada orang yang datang menawarkan pekerjaan. Namun tawaran yang dirindukan tak kunjung datang.

"Kuli-kuli ngetem seperti ini, orderan semakin langka. Lain dengan dulu, di bawah tahun 1990-an itu bisa milih karena orderan banyak," kata Jarmin kepada detikcom, Rabu (28/11/2018).

Jarmin terlihat paling tua dibanding enam kuli yang duduk di sekitarnya. Dari balik topi kumal Jarmin terlihat rambut-rambut yang sudah putih, seolah menandakan pengalaman hidup. Dia memang sudah menjadi kuli sindang di Jakarta sejak 1972. Saat itu Jakarta sedang gencar membangun, jasa kuli sindang pun terpakai.



Pada zaman Soeharto, harga-harga bahan kebutuhan hidup dirasanya lebih bisa ditanggung. Namun kini dia merasa musim sudah berganti. "Sekarang ekonomi keluarga engap-engapan," kata Jarmin. "Mengandalkan buat makan saja repot. Jadi beda banget, berasa banget."

Nostalgia Kuli Sindang: Gampang Dapat Kerja di Zaman SoehartoJarmin (69) sang kuli sindang masih bekerja, bersama kawan-kawan. Tapi mereka lebih banyak menganggur daripada kerja. (Adhi Indra Prasetya/detikcom)

Meski berat, dia tak beralih pekerjaan. Hanya ini yang bisa dia lakukan untuk bertahan hidup di usia senja. Modal beralih pekerjaan juga tidak dia punyai. Namun dia bersyukur meski kekayaan tak segunung.

"Saya sudah mantu empat, cucu 10. Kekayaan cuma itu, kalau yang lain nggak ada," kata dia sambil tertawa, mengusir kesan melodramatik dalam menyikapi hidup.

Jarmin dan kawan-kawannya yang duduk di sekitar Taman Makam Pahlawan Kalibata itu hanya sebagian dari kuli sindang di Jakarta. Di lokasi lain, masih ada lagi kuli-kuli sindang yang menunggu pekerjaan.

Ada Sunojo, kuli sindang asal Jepara, yang menunggu panggilan kerja di bawah jalan layang, tepat di seberang Universitas Trisakti yang terletak di Grogol, Jakarta Barat.



Saat detikcom menghampirinya, pria empat puluh tahunan ini sempat terlihat bersemangat karena mengira akan ditawari pekerjaan. Meski akhirnya raut mukanya menunjukkan rasa kecewa, permintaan wawancara tetap diterimanya.

"Saya sudah jadi kuli di Jakarta lebih dari 20 tahun, sejak Soeharto belum lengser," kata Sunojo, yang sempat merasakan hidup jadi kuli di ujung era rezim Soeharto.

Nostalgia Kuli Sindang: Gampang Dapat Kerja di Zaman SoehartoSunojo, kuli sindang di bawah jembatan Grogol. (Adhi Indra Prasetya/detikcom)

Pada beberapa pertanyaan, dia menjawab dengan nada antusias, salah satunya saat ditanya mengenai perbedaan kemudahan mendapat permintaan kerja di masa lalu dan sekarang.

"Wah, malah enak dulu. Dulu (hasil) kerja seminggu bisa buat nganggur dua minggu," ujar Sunojo dengan logat Jawa yang khas. "Dulu bir masih Rp 4.000, rokok seribu. Sekarang, uang Rp 100 ribu buat makan sama rokok saja nolah-noleh. Enak dulu," ujarnya.



Paling maksimal dalam sebulan dia mendapat Rp 3-4 juta. Namun itu jarang terjadi. Paling rendah, dia mengantongi Rp 300 ribu saja untuk sebulan. "Bisa juga sebulan nggak kerja-kerja," kata dia, sambil bersila di atas alas kardus.

Di seberang Stasiun Grogol bawah jalan layang, sejumlah kuli sindang juga sedang nongkrong menunggu pekerjaan. Saat itu mereka duduk bergerombol. Ditanya kesediaan untuk diwawancara, mereka pun langsung merapat, meski hanya sedikit dari mereka yang mau bersuara.

Nostalgia masa lampau pun kembali terucap dari mulut mereka. Sama seperti Jarmin dan Sunojo, mereka merasa pekerjaan di zaman sekarang tak lagi sebanyak sebelum era reformasi.

"Kata saya mah enakan dulu. Proyek-proyek banyak," ujar Udin (40), salah satu kuli sindang yang ditemui di seberang Stasiun Grogol. Dori (35), kuli sindang lainnya yang menunggu di sana, ikut menambahkan. "Dulu zaman Pak Harto banyak kerjaan. Sekarang makin susah. Rakyat kecil kejepit," ujarnya.


Udin merasa hidupnya lebih banyak menganggur ketimbang bekerja. Kerja sehari, menganggur sepekan. Sulitnya kuli sindang mendapat pekerjaan saat ini, menurut mereka, disebabkan peran mereka yang kini sudah bisa digantikan. Penggantinya bisa berupa mesin dan bisa pula berwujud petugas rekrutan pemerintah.

Nostalgia Kuli Sindang: Gampang Dapat Kerja di Zaman SoehartoArdi (61), Udin (40), Dori (35), dan kawan-kawan kuli sindang di sekitar Stasiun Grogol. (Adhi Indra Prastya/detikcom)

"Sekarang menguras saluran air di RT/RW juga sudah dikuasai orang orang berseragam. Kita mau ngecat-ngecat, sudah ada orang kelurahan sekarang. Saingan juga sudah banyak," ujar Udin.

Udin dan rekan-rekannya tak punya pendapatan dengan nilai nominal pasti. Kadang-kadang pekerjaan datang hanya sekali dalam sebulan, ada orang meminta bantuan untuk menggali septic tank. Tenaga dua orang dari mereka bakal dihargai Rp 1 juta. Maka duit Rp 500 ribu per orang bakal mereka gunakan untuk hidup sebulan. Bila nasib sedang berpihak, Rp 2 juta untuk sebulan bisa saja mereka kantongi. Pokoknya penghasilan mereka tak pasti.

"Saya sudah tiga bulan di sini belum dapat apa-apa. Di kampung juga sedang nggak ada kerjaan. Paling kalau musim panen nanti pulang semua," kata Udin sambil berharap rezeki dari sawah orang di kampung halamannya, Brebes, Jawa Tengah.


Penuturan soal sulitnya kerja terlontar dari Jarmin di Kalibata, Sunojo di seberang Universitas Trisakti, maupun Udin dan Doris di seberang Stasiun Grogol.

"Sekarang juga sudah canggih, dulu mengukur tanah pakai meteran, sekarang sudah bisa alat komputer, lebih canggih," ujar Sunojo.

Di era Soeharto, Udin yang masih remaja pernah ditertibkan oleh aparat. Bahkan Ardi, kuli sindang usia 61 tahun, pernah tiga kali kena garuk. Saat itu dia masih nongkrong di Kedoya, Jakarta Barat.

"Dulu penertiban banyak, tapi kerjaan juga banyak. Sekarang penertiban nggak ada, tapi pekerjaan juga susah," celetuk Udin.

Meski begitu, para kuli sindang ini pun bingung jika harus berganti pekerjaan. Sebab, dengan latar belakang pendidikan yang minim dan keahlian yang terbatas, mereka tak tahu harus melangkah ke mana. Mereka pun berharap agar pemerintah era kini punya solusi bagi kuli sindang.

"Inginnya sih lebih diperhatikan. Kita kan pekerja kasar nih, inginnya ada lapangan kerja yang bagus, jangan cuma untuk yang berpendidikan saja, tapi seperti kita yang cuma lulusan SD, juga diperhatikan," ujar Udin. Dori, kuli sindang yang duduk tak jauh dari Udin, pun mengharapkan hal serupa. "Kalau kita, yang penting ada lapangan kerja buat kita. Di desa saja kadang kadang nggak merata (lapangan kerja)," sahutnya.

Simak terus artikel-artikel lain tentang kuli sindang di detikcom.



(dnu/fjp)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed