"Status Karhutla hari ini dicabut. Ini mengingat saat ini Riau sudah memasuki musim penghujan," kata Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Riau, Edwar Sanger kepada detikcom, Jumat (30/11/2018).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Selama status siaga Karhutla, kita tahun ini kembali berhasil mengatasi dan mencegaha kebakaran yang tidak menimbulkan asap. Tercatat sudah 3 tahun berturut-turut Riau bebas asap," kata Edwar.
Walau status Satgas Karhutla telah dicabut, kata Edwar, Pemprov Riau hari ini menetapkan siaga banjir dan longsor.
"Jadi masing-masing kabupaten dan kota sama-sama mengantisipasi persoalan banjir dan tanah longsor. Setiap kabupaten harus sudah mempersiapkan segala sesuatunya untuk mengatasi banjir dan longsor," kata Edwar.
Untuk data sementara ini, banjir di sejumlah kabupaten sudah tampak surut. Namun demikian, dengan curah hujan yang masih tinggi, tidak tertutup kemungkinan banjir akan kembali terjadi.
"Inilah yang kita antisipasi bersama instansi terkait terutama BPBD. Segala persiapan sudah kita lakukan," kata Edwar.
Untuk masalah longsor, kata Edwar, di Riau ini ada dua kabupaten yang rawan. Pertama Kabupaten Kampar di lintas barat menghubungkan ke Sumatera Barat (Sumbar).
Yang kedua, jalan lintas selatan menghubungkan Kabupaten Kuansing ke Sumbar. Kedua kabupaten ini di wilayah perbatasan rawan terjadi longsor.
"Di Kabupaten Kampar berbatasan Sumbar paling rawan terjadinya longsor, baik tebing yang longsor atau badan jalan," kata Edwar.
Karenanya, masyarakat yang melintas di wilayah perbatasan tersebut, diminta untuk berhati-hati. Karena kondisi curah hujan yang masih tinggi, bisa saja bencana longsor akan terjadi.
"Kita sudah minta ke BPBD Kampar untuk selalu siaga terutama alat berat di lokasi untuk memudahkan pekerjaan apa bila terjadi longsor," tutup Edwar.
Saksikan juga video '2.500 Personel Kodam Jaya Diterjunkan Tangani Banjir':
(cha/rvk)











































