Timses: Akal Sehat Rakyat akan Pilih Jokowi Pemimpin Terbaik

Nur Azizah Rizki Astuti - detikNews
Rabu, 28 Nov 2018 17:48 WIB
Presiden Joko Widodo (Foto: Ray Jordan/detikcom)
Jakarta - Dua lembaga survei Median dan LSI Denny JA merilis hasil survei yang menunjukkan elektabilitas pasangan Joko Widodo (Jokowi)-Ma'ruf Amin masih unggul dibandingkan pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. Meskipun demikian, PDIP tidak menggunakan hasil survei tersebut sebagai satu-satunya parameter.

Juru bicara Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma'ruf Amin, Ahmad Basarah, mengatakan hasil survei itu akan digunakan sebagai referensi. Menurutnya, yang paling utama Jokowi harus terus bekerja untuk rakyat.


"Pada akhirnya saya percaya betul, kami percaya dan yakin bahwa pada akhirnya akal sehat rakyat itulah yang akan menentukan bahwa Pak Jokowi adalah pemimpin bangsa Indonesia yang terbaik pada saat ini," ujar Basarah di Megawati Institute, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (28/11/2018).

Menurut Basarah, yang akan ditonjolkan dari Jokowi adalah niat baiknya untuk memimpin Indonesia untuk periode kedua. Ia lalu menjelaskan makna dari pakaian yang sering dikenakan Jokowi, yaitu kemeja putih dengan lengan digulung.


"Saya kira simbolik pakaian Pak Jokowi yang selalu ditampilkan, berbaju putih, tangan digulung, itu menandakan bahwa hatinya bersih. Tangannya yang digulung itu siap untuk bekerja kepada rakyat. Dan saya kira itu yang dibutuhkan oleh bangsa Indonesia sekarang," jelas Basarah yang juga Wasekjen PDIP ini.

"Pak Jokowi akan memimpin lagi bukan dengan janji tapi dengan satu nawaitu (niat) yang baik untuk membangun kesejahteraan rakyat dan bangsa Indonesia," imbuhnya.


Basarah juga menegaskan pihaknya akan terus bekerja untuk memberikan penjelasan kepada publik dengan narasi-narasi yang mendidik, mencerahkan, dan mencerdaskan bangsa. Ia menyebut itu sebagai tanggung jawab partai politik untuk memberikan pendidikan politik kepada rakyat dengan tidak menyebarkan hoax, fitnah, dan provokasi.

"Yang nanti kita harapkan kita akan bertemu pada rasionalitas publik untuk menilai mana fakta, mana hoax, mana data, mana kebohongan, mana provokasi, mana pesan-pesan yang memberikan kesejukan dan membangun," pungkasnya. (azr/jbr)