Jelang Bulan Teroris, Polri Kerjasama dengan 2 Kepolisian

Jelang Bulan Teroris, Polri Kerjasama dengan 2 Kepolisian

- detikNews
Selasa, 30 Agu 2005 14:15 WIB
Jakarta - Kapolri Jenderal Pol Sutanto akan meneken MoU soal penanganan terorisme dengan kepolisian Filipina dan Australia. MoU ini merupakan agenda Kapolri terkait dengan bulan terorisme yang di-warning Presiden SBY."MoU yang baru itu dengan kepolisian Filipina. Sedangkan dengan kepolisian Australia hanya melakukan perpanjangan dengan beberapa pembaruan," ungkap Pelaksana Harian Kabid Penum Mabes Polri Kombes Pol Saud Usman Nasution dalam jumpa pers di Bareskrim Mabes Polri, Jalan Trunojoyo, Jakarta, Selasa (30/8/2005).MoU tersebut rencananya akan diwujudkan pada akhir September atau awal Oktober di Manado, Sulawesi Utara. Isi MoU antara lain pertukaran data, pertukaran teknologi, informasi dan sarana pengujian. Misalnya, tes DNA."Baru dengan dua negara ini. Sedangkan dengan Malaysia nantinya akan menyusul, namun belum diketahui kapan waktunya," kata Saud.Dalam penanganan terorisme ini, Polri tidak mungkin bergerak sendiri. Karenanya, beberapa perjanjian bilateral dan multilateral dibuat untuk mengoptimalkan penanganan, terutama penangkapan beberapa DPO teroris dengan mengoptimalkan pencarian di seluruh jajaran Polri."Optimalisasi pasukan dan pengamanan di beberapa titik rawan dilakukan seperti biasa, tapi tidak ada peningkatan," ungkap Saud. Sayangnya, Saud menolak membeberkan titik-titik yang dianggap rawan tersebut.Presiden SBY, Senin (29/8/2005), mengeluarkan peringatan kepada jajaran aparat keamanan agar meningkatkan pengamanan di tanah air di bulan September dan Oktober. Sebab bulan-bulan ini dianggap sangat rawan terhadap aksi terorisme. Hal itu terkait dengan peringatan peledakan WTC di New York pada 11 September dan bom Bali pada 20 Oktober. Bahkan SBY mencatat bulan-bulan ini sebagai bulan spesial terorisme. Untuk menghindari kejadian yang tidak diinginkan, SBY meminta aparat meningkatkan keamanan mengingat dua tokoh teroris asal Malaysia, yakni Dr Azahari dan Noordin M Top, hingga kini belum berhasil ditangkap. Padahal, di awal kepemimpinannya SBY berjanji akan menangkap dua buronan tersebut dalam 100 hari pemerintahannya. (umi/)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads