Miris Laut Sampah di Utara Jakarta

Danu Damarjati - detikNews
Rabu, 28 Nov 2018 07:12 WIB
Penyu mati akibat sampah plastik dan minyak di perairan Pulau Pari. (Imam, Suryadi, dan Boni/Warga RT01 RW04 Pulau Pari)
Jakarta - Masih hangat kabar bangkai paus di Wakatobi yang perutnya berisi sampah plastik, kini kabar pencemaran laut keburu menyusul. Kabar itu datang dari lautan utara daratan Jakarta. Sampah plastik bercampur minyak mencemari lautan Pulau Pari, Kepulauan Seribu.

"Yang mendominasi plastik, macam-macam, ada plastik botol, kantong plastik, plastik bungkus makanan," kata Ketua RT 01 RW 04, Kelurahan Pulau Pari, Kepulauan Seribu, Jakarta, Edi Mulyono (34) kepada detikcom, Selasa (27/11/2018).

Beberapa warga, kata Edi, merekam langsung kejadian di laut itu. Sampah-sampah itu terapung dan diketahui sudah ada sejak pukul 10.00 WIB. Bahkan di sekitar situ juga ditemukan penyu mati, yang jumlahnya diperkirakan tak hanya seekor, tapi dua hingga tiga ekor.


"Meski belum dipastikan, menurut teman-teman, matinya itu karena makan sampah atau kena minyak. Bangkainya ditemukan tak jauh dari sekitar situ (perairan yang dicemari sampah)," kata dia.

Miris Laut Sampah di Utara JakartaSampah plastik dan minyak di perairan Pulau Pari, penyu sisik mati. (Imam, Suryadi, dan Boni/Warga RT01 RW04 Pulau Pari)

Selain sampah plastik, ada tumpahan minyak. Warga biasa menyebutnya sebagai 'minyak pek'. Entah dari mana asal minyak itu. Memang lokasi perairan Pulau Pari dilintasi kapal-kapal. Soal sampah plastik, Edi yakin itu berasal dari daratan Jakarta.

"Ini rata-rata sampah kiriman dari 13 sungai dari pesisir Jakarta. Kalau dari Kepulauan Seribu, kita sendiri sadar lingkungan, sampah kita sudah tertangani dengan baik," kata Edi.


Video dan foto warganya yang melintas di laut sekitar pukul 10.00 WIB kemarin, yakni dari Imam dan Boni, menunjukkan banyak sampah terapung di lautan. Sedangkan video dari warga bernama Suryadi alias Ondy, yang melintas di laut sekitar pukul 12.00 WIB kemarin, menunjukkan ada bangkai penyu mengapung. Kabarnya, ada dua hingga tiga penyu mati di suasana laut yang tercemar sampah, kemarin.

"Ini karena banyak pek (minyak), jadi penyu juga sampai mati, mungkin karena banyak limbah pek, dan juga sampah-sampah, lihat, banyak banget sampah-sampah... ada eceng gondok, segala plastik-plastik, dan juga yang lainnya. Wah, sayang banget, penyu sangat besar-besar begitu sampai mati begitu, lihat..., " begitu kata seseorang yang merekam video bangkai penyu mengambang.



Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) mendorong Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) dan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) untuk segera menyelidiki kematian penyu itu. Diduga kuat, penyu itu mati akibat pencemaran laut.

"KLHK atau KKP harus melakukan penelitian kenapa penyu-penyu tersebut banyak yang mati. Pasti ada sesuatu gangguan yang membuat mereka mati massal," kata Sawung.



Walhi menilai sampah-sampah di Pulau Pari itu berasal dari daratan Jakarta. Maka aliran sampah dari daratan ke lautan Jakarta harus dihentikan.

"Sampah tersebut berasal dari sekitar Teluk Jakarta. Aliran sampah-sampah ke laut perlu segera dihentikan dengan manajemen pengelolaan sampah yang lebih baik," kata pengkampanye perkotaan dan energi Walhi, Dwi Sawung, kepada detikcom.



Saksikan juga video 'Indonesia Darurat Sampah Plastik Cemari Lautan':

[Gambas:Video 20detik]

(dnu/mae)