Kemenko Maritim Ingin Hidupkan Lagi Plastik Berbayar

Zunita Amalia Putri - detikNews
Selasa, 27 Nov 2018 21:21 WIB
Diskusi 'Plastik Laut: Hambatan dan Peluang' (Zunita/detikcom)
Jakarta - Deputi Kemenko Maritim Safri Burhanuddin meminta masyarakat meminimalkan penggunaan plastik. Safri mengatakan pemerintah juga berencana menghidupkan kembali plastik berbayar untuk meminimalkan penggunaan plastik.

Hal ini dikatakannya saat menjadi pembicara dalam diskusi 'Plastik Laut: Hambatan dan Peluang' dengan Kedutaan Besar Australia di Kantorkuu Coworking Space, Jl HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, Selasa (27/11/2018).

"Plastik berbayar kita mau hidupkan lagi, tapi berbeda, misalkan banned plastik yang dilakukan beberapa kota, tapi yang kita siapkan kantong khusus tebal yang bisa dibeli tanpa dia buang, jadi bisa berkali-kali dia pakai," kata Safri.


Dia menyebut beberapa kota di Indonesia sudah menerapkan sistem banned plastik, salah satunya Banjarmasin dan Balikpapan. Bahkan Jawa Barat juga akan menerapkan sistem banned penggunaan plastik juga.

Jika berhasil dengan beberapa kota mem-banned penggunaan plastik, Safri mengatakan pemerintah akan memberikan apresiasi kepada masing-masing kabupaten dan kota. Apresiasi tersebut berupa uang intensif.

"Tahun 2019 kota yang berhasil kurangi sampah akan diberi insentif dari Menteri Keuangan. Akan kita standardisasi utama," jelasnya.

Selain itu, Safri mengatakan pemerintah saat ini berencana membuat kurikulum pendidikan kepada anak usia dini tentang pengelolaan sampah. Hal ini untuk mengubah mindset masyarakat sejak kecil.

"Kurikulum kita buat secara general tentang kebersihan laut. Kalau laut kotor, ikan kita akan terganggu. Kira-kira gambaran seperti itu ke anak-anak. Itu ajaran untuk anak TK, SD, SMP. Jadi pembahasannya masih sederhana," jelasnya.


Terakhir, dia menyebut pemerintah tengah bekerja sama dengan Ocean Clean Up untuk mengangkut sampah di sungai dengan kapal pengangkut sampah.

"Tahun ini kita sampaikan, kita ada kerja sama dengan Ocean Clean Up, yang mempunyai kapal pengangkut sampah di muara sungai. Itu kita lakukan untuk kurangi sampah. Kita ambil di muara sungai," ungkapnya.

Sementara itu, praktisi dari IPB Sinta Kaniawati menyebut saat ini Indonesia berada di posisi kedua penyumbang sampah terbanyak di dunia, setelah China. Dia menyebut, jika sampah yang berada di darat bisa diminimalkan, mungkin sampah di laut mudah diatasi.

"Pencemaran yang ada di laut dari mana sih? Sebenarnya dari darat. Kalau kita bisa pecahkan masalah di darat, sebagian sampah di laut itu bisa dikendalikan. Faktanya, kalau kita melakukan cara hidup seperti saat ini, ini yang akan terjadi di tahun depan, lebih banyak plastik daripada ikan di laut, dan ini sangat mengerikan," pungkasnya. (zap/idh)