Rupiah Dekati 12.000/US$, Eh..Kalla Malah ke Luar Negeri
Selasa, 30 Agu 2005 12:50 WIB
Jakarta - Nilai tukar rupiah semakin mengkhawatirkan. Menjelang siang, rupiah mendekati 12.000 per 1 US$. Wajar, bila ada yang bilang Indonesia berada di ambang krisis moneter babak kedua. Sementara rupiah terjungkal, eh....Wakil Presiden Jusuf Kalla malah melawat ke luar negeri. Sudah begitu bejibun masalah-masalah yang menimpa pemerintahan SBY-JK. Dalam masa pemerintahannya yang baru berusia 10 bulan, berbagai masalah telah mendera bangsa ini. Ada gempa di Alor, gempa dan tsunami di Aceh, gempa Nias, busung lapar, flu burung, melambungnya harga minyak dunia, kelangkaan BBM, dan saat ini nilai tukar rupiah yang jeblok. Jebloknya rupiah jelas membuat tim ekonomi kabinet SBY-JK kelabakan. Sejumlah cara sudah dilakukan untuk meredam gejolak rupiah. Presiden SBY telah mendatangi Bank Indonesia. Para menteri juga melakukan sidak ke Bursa Efek Jakarta (BEJ). Pemerintah juga telah mengimbau kalangan pengusaha dan rakyat tidak panik. Tapi, cara-cara yang telah dilakukan pemerintah ini belum juga bisa meredam gejolak rupiah. Ini jelas masih menjadi pekerjaan rumah yang sangat berat bagi tim ekonomi. Selama ini, tim ekonomi lebih dikoordinasi oleh Wapres Jusuf Kalla. Saat penyusunan kabinet yang lalu, Kalla juga yang lebih agresif untuk menentukan tim ekonomi yang disodorkan ke Presiden SBY. Alhasil, tim ekonomi di kabinet Indonesia Bersatu yang disodorkan Kalla diamini SBY. Tapi, mengapa di saat rupiah sedang kritis, Kalla malah tetap melawat ke luar negeri? Apa tidak lebih bagus mengurus dalam negeri lebih dulu dan menunda lawatan kunjungan ke luar negeri? Presiden SBY sebenarnya sudah memberi contoh yang bagus. Bulan Juli lalu, SBY terpaksa menunda lawatannya ke Cina gara-gara kelangkaan BBM terjadi di mana-mana. SBY beralasan menunda lawatannya itu karena dirinya ingin membereskan masalah BBM. SBY pun meminta Cina untuk memahami alasan penundaan lawatannya itu. Tapi, mengapa Kalla tidak meniru langkah SBY? Kalla telah berangkat menuju Cina, Selasa (30/8/2005). Dalam kunjungan selama enam hari itu, Kalla juga akan berkunjung ke Jepang. Dalam kunjungan ini, Kalla didampingi sejumlah menteri, istrinya Mufidah Jusuf Kalla, anaknya, Chaerani. Rombongan lainnya, Sekjen Partai Golkar Soemarsono, anggota FPG Gumiwang Kartasasmita, dan penasihat Kadin, Sofyan Wanandi. Dalam agenda yang telah disiapkan protokoler, Kalla memang menghadiri acara terkait peningkatan perdagangan di antara kedua negara. Di Cina dan Jepang, Kalla akan bertemu pebisnis di kedua negara itu. Barangkali inilah cara Kalla untuk mengatrol rupiah? Kita tunggu saja. Pergerakan rupiah hingga siang ini cukup cepat. Rupiah sempat berada di level 11.700 per US$ 1. Namun, karena ada intervensi Bank Indonesia (BI), kini rupiah kembali ke 11.500 per US$ 1. Posisi rupiah yang jeblok serendah ini belum pernah terjadi saat Megawati menjadi presiden.
(asy/)











































