Negara Konsumen Minyak Mulai Masuki Krisis Energi
Selasa, 30 Agu 2005 10:35 WIB
Jakarta - Terus melonjaknya harga minyak hingga sempat ke level US$ 70 per barel akibat badai tropis Katrina di Teluk Meksiko menimbulkan kekhawatiran ekonomi di sebagian negara, terutama negara pengonsumsi minyak. Masalah ini juga memaksa negara konsumen minyak untuk mencari energi alternatif untuk menghindari mereka dari masalah krisis energi. Dampak badai tropis Katrina juga berpengaruh pada kegiatan asuransi Amerika Serikat (AS). Badai tropis Katrina menyebabkan perusahaan asuransi AS membayar klaim sangat besar sepanjang sejarah perasuransian perminyakan AS. Kepala Ekonomi The Insurance Information Institute Robert Hartwig seperti dikutip kantor berita AFP menyatakan, badai tropis Katrina akan mengalahkan klaim asuransi terbesar yang terjadi pada Agustus 1992 akibat topan Andrew. Saat itu klaim asuransi besarnya mencapai US$ 21 miliar."Kita perkirakan pembayaran asuransi besarnya mencapai US$ 12 hingga 25 miliar," katanya.Di sisi lain, kenaikan harga minyak meresahkan sejumlah negara konsumen minyak. Negara konsumen minyak akan terbawa ke jurang krisis energi. Mereka akan berusaha untuk melakukan langkah penghematan secara radikal terhadap penggunaan energi.Negara konsumen minyak juga akan berusaha mencari energi alternatif dan dapat diperbaharui. Energi yang paling hemat dan paling mungkin dikembangkan adalah energi nuklir.Di negara-negara Asia, isu krisis energi akan menjadi makanan politik jika risiko ekonomi tidak ditekan akibat masalah ini. Pencabutan subsidi di bidang energi berpengaruh pada kelanggengan sejumlah pemimpin negara di Asia.Pemimpin komunis Cina mulai memberlakukan kebijakan penyimpanan dan penghematan energi yang tak pernah dilakukan sebelumnya. Contohnya adalah, menaikkan temperatur pendingin ruangan dan menganjurkan memakai pakaian tipis.Di Eropa, upaya penghematan energi dilakukan sejumlah negara Eropa dengan menaikkan pajak BBM. Kenaikan pajak ini untuk menghindari pemborosan pemakaian BBM.Pemerintah Prancis berencana untuk membatasi laju kendaraan di jalan tol dengan kecepatan maksimal sebesar 115 kilometer per jam dari yang semula mencapai 130 kilometer per jam.Spanyol juga menetapkan target penghematan energi hingga 8,5 persen. Sedangkan Jerman, akan berusaha menerapkan kebijakan pembatasan penggunaan mobil dan membatasi kecepatan kendaraan.Melonjaknya harga minyak di pasaran dunia menjadi concern negara Arab Saudi. Salah satu negara pengekspor minyak terbesar ini berencana untuk menaikkan produksi minyaknya."Arab Saudi siap untuk menaikkan produksi minyaknya untuk menurunkan harga minyak," kata Menteri Perminyakan Arab Saudi Ali al-Nuaimi seperti dikutip kantor berita SPA.
(mar/)











































