Pandangan Pelopor Antisedotan Dunia soal Problem Sampah Plastik RI

Danu Damarjati - detikNews
Senin, 26 Nov 2018 02:13 WIB
Foto ilustrasi. (Ghazali Dasuqi/detikcom)
Jakarta - Indonesia disebut sebagai negara kedua terbesar penyumbang sampah plastik di lautan dunia. Di tengah masalah lingkungan itu, muncul gerakan antisedotan plastik. Kini pelopor gerakan anti sedotan dunia, Milo Cress, memberikan pandangannya.

Milo yang dulu dikenal sebagai bocah, umurnya baru 9 tahun saat merintis gerakan 'be straw free' tahun 2011, kini telah tumbuh menjadi remaja. Program antisedotan plastiknya sudah kian mengglobal. Paralel dengan di Indonesia, gerakan antisedotan plastik juga muncul dipelopori anak muda bernama Swietenia Puspa Lestari.

Milo melihat ada dua usaha untuk memerangi bahaya sampah plastik. Pertama, dari aksi warga yang sadar lingkungan. Kedua, dari pemerintah yang mengatur warganya lewat aturan tegas. Dia lebih percaya kepada aksi warga ketimbang langkah pemerintah dalam mengatasi masalah sampah.



"Ketika masyarakat memilih untuk mengambil langkah terhadap perilaku konsumsi (plastik sekali pakai) dan perilaku lainnya, maka hasilnya bakal lebih kuat dan tahan lama," kata Milo kepada detikcom, Senin (26/11/2018).

Idealnya, masyarakat yang sadar lingkungan pasti memahami bahaya perilaku penggunaan plastik sekali pakai terhadap lautan. Cara membangun kesadaran itu tak bisa dengan cara apapun kecuali edukasi.

"Penggunaan plastik secara berlebihan adalah suatu ancaman bagi lingkungan. Saya pikir langkah pertama yang perlu dilakukan adalah pendidikan dan dorongan agar secara sukarela mengurangi penggunaan plastik," kata Milo.



Namun bagaimana bila perilaku masyarakat tak kunjung berubah? Apa yang perlu dilakukan ketika masyarakat paham bahaya plastik namun tetap menggunakannya dan membuangnya terus dan terus?

"Bila masyarakat menolak untuk mengubah perilakunya, barangkali itulah waktu yang tepat bagi pemerintah untuk melindungi lingkungan dan warganya lewat hukum," kata Milo.

Berdasarkan penelitian Divers Clean Action tahun 2017, orang-orang di 10 kota besar Indonesia menghabiskan 93.244.847 batang sedotan per harinya. Sedotan sepanjang itu setara dengan 16.784 km, atau sama dengan jarak dari Jakarta ke Mexico City.



Indonesia sendiri adalah negara kedua penyumbang sampah plastik lautan terbanyak di dunia. Itu adalah hasil penelitian Jenna R Jambeck dari Universitas Georgia dkk tahun 2015. Indonesia menghasilkan sampah plastik yang salah urus sebanyak 3,22 juta metrik ton per tahun, atau setara dengan 10,1 persen sampah plastik di planet ini. Negara yang digolongkan 'berpendapatan menengah ke bawah' ini melarungkan 0,48 juta hingga 1,29 juta ton sampah plastik ke lautan tiap tahunnya.

Pandangan Pelopor Antisedotan Dunia soal Problem Sampah Plastik RI
(dnu/nvl)