DetikNews
Kamis 22 November 2018, 06:57 WIB

Karena Sesama Muslim Dilarang Berperang

Pasti Liberti - detikNews
Karena Sesama Muslim Dilarang Berperang Foto: Ilustrasi : Edi Wahyono
Jakarta - Dua perwira muda Mayor Zaini Azhar Maulani dan Mayor KKO Suharmo Haryanto yang sedang menempuh pendidikan di Command and General Staf College Quetta, Provinsi Balochistan, Pakistan, hari itu terbang menuju Islamabad. Mereka rencananya mengisi liburan semester pertama pada Maret 1971 di ibu kota Pakistan sekaligus memberikan laporan rutin dan melengkapi laporan bulanan kepada Atase Militer dan Atase Angkatan Laut di Kedutaan Besar Republik Indonesia untuk Pakistan.

Saat keluar dari mobil milik kedutaan yang menjemput mereka di Bandara Internasional Islamabad mereka disambut penghormatan jaga berjajar enam orang berwajah pribumi Pakistan yang berseragam unit pengamanan kedutaan. Kedua perwira muda itu terperangah melihat tim penyambut itu. Tiga pita yang tergantung di atas kemeja enam orang itu jadi penyebabnya. ZA Maulani sebagai perwira langsung mengenali tiga pita itu. "Tiga pita itu dari Angkatan Bersenjata Republik Indonesia," seperti yang diungkapkannya dalam buku Peranan Pakistan di Masa Revolusi Kemerdekaan Indonesia.

Tak sembarangan orang bisa memakai tiga pita yang dilihat Maulani itu : Pita Bintang Gerilya, Gerakan Operasi Militer (GOM) I, dan GOM II. GOM I diberikan pada prajurit yang turut bertempur saat operasi militer menghadapi peristiwa Madiun 1948. Sementara GOM II untuk mereka yang terlibat dalam operasi menghadapi Angkatan Perang Ratu Adil (APRA) pada 1950. "Pada tahun 1971 Bintang Gerilya masih merupakan bintang tertinggi di lingkungan ABRI," kata Maulani, mantan Kepala Badan Koordinasi Intelijen Negara (BAKIN) pada masa pemerintahan Presiden B.J. Habibie.

Melihat para penyambutnya memakai tiga pita itu, tanpa pikir panjang Z.A. Maulani dan Suharmo memberi hormat terlebih dulu dan menyalami satu persatu. Dalam kategori komunitas TNI, penyandang bintang jasa itu tergolong "Generasi 1945". "Mengikuti kebiasaan prajurit Siliwangi mereka itu dihormati dengan panggilan maung kolot atau macan tua," ujar Maulani, alumnus Akademi Militer Nasional 1961 itu. "Karena jasa-jasa mereka pada tanah air dan bangsa Indonesia maung-maung kolot itu sangat layak mendapat penghormatan dari kami."

Kisah para penerima tanda jasa itu dimulai 43 hari setelah Republik lahir. Satu divisi pasukan Inggris dari Divisi India ke-23 berlabuh di Tanjung Priok pada 29 September 1945 yang dipimpin Mayor Jenderal D.C. Hawthorn. Bersama pasukan ini ikut pula perwira penerangan pasukan India, Kapten Poonamalle Ramakrishna Subrahmanyan, atau lebih dikenal sebagai P.R.S. Mani, yang bertugas melaporkan semua kegiatan tentara India. Divisi ini ditugaskan untuk daerah Jawa Barat termasuk Batavia.

Kedatangan kelompok pertama itu kemudian disusul Divisi India ke-26 di bawah komando Mayjen H.M. Chambers untuk menduduki Padang dan Medan pada 10 Oktober. Sementara pada 20 Oktober di Semarang mendarat Brigade Darurat dan terakhir Divisi India ke-5 di bawah komando Mayjen E.C. Mansergh untuk Jawa Timur pada 30 Oktober.

Mani mencatat tak ada riuh sambutan bagi pasukan ini seperti yang mereka dapatkan saat mendarat di Burma dan Malaysia. "Suasana tenang yang mencekam dan tidak menyenangkan di situ menunjukkan adanya kecurigaan," ujar Mani dalam buku Jejak Revolusi 1945.

Keterlibatan pasukan India yang saat itu masih satu wilayah dengan Pakistan dalam militer Inggris punya riwayat panjang. Sebagai daerah jajahan Inggris, pasukan dari kawasan itu sudah ikut dalam Perang Dunia I. Masa itu hampir 1,3 juta prajurit dari India terlibat perang di Eropa, Mediterania, Mesopotamia, Afrika Utara dan Timur. Begitu juga saat Perang Dunia ke-2, lebih dari 2 juta prajurit India terlibat di dalamnya.

Pengiriman tentara Sekutu itu ditujukan untuk melucuti dan memulangkan serdadu-serdadu Jepang serta menyelamatkan tahanan-tahanan Eropa dari kamp-kamp interniran. Selama masa pendudukan Jepang terdapat 68 ribu tawanan perang dan interniran di Pulau Jawa sementara di Pulau Sumatera lebih dari 13 ribu orang. Presiden Sukarno sendiri meminta agar pendaratan pasukan Sekutu itu tidak dihalang-halangi. Syaratnya hanya dilakukan untuk ketentraman umum dan tidak menyinggung masalah kemerdekaan Indonesia.

Belanda memang ingin mendompleng pasukan Sekutu untuk mengembalikan kekuasaannya di Indonesia. Mengingat kekuatan militer Belanda sendiri sudah tak memadai untuk kepentingan itu. Belanda juga berniat menyusun kembali kekuatan sisa-sisa tentara kerajaan Hindia Belanda atau Koninklijk Nederlandsch-Indische Leger (KNIL). "Akhirnya militer Inggris dianggap jadi bagian rencana membangun kembali kekuatan kolonial Belanda," ujar Firdaus Syam, penulis buku Peranan Pakistan di Masa Revolusi Kemerdekaan Indonesia kepada detikX, beberapa pekan lalu.

P.R.S. Mani yang juga seorang wartawan mencatat, sebagian tentara India, terutama prajurit India yang beragama Islam, agak enggan dikirim ke Indonesia dan menghadapi kemungkinan mesti bertempur dengan prajurit Indonesia. Apalagi saat kemudian mereka dikirim ke Surabaya dan berlabuh di Pelabuhan Tanjung Perak.

"Pelabuhan sudah penuh dengan tulisan anti kolonialisme dan imperialisme....Dan untuk pertama kalinya sejak tiba di Jawa, kami menemui slogan dalam bahasa Hindi, 'Azadi ya Khunrezi'....Merdeka atau pertumpahan darah'," Mani menulis. Pengaruh slogan-slogan itu di kalangan prajurit India, terutama para prajurit dari Mahratta dan Rajputana, menurut Mani, sungguh luar biasa. "Aku mendengar laporan, ada sebagian dari mereka mulai bertanya kepada para perwira apakah mereka mesti bertempur melawan prajurit Indonesia."

Di India sendiri, pengiriman prajurit-prajurit India di bawah bendera pasukan Sekutu ke Indonesia dan beberapa negara lain, sebenarnya tak disokong para pemimpin pergerakan seperti Jawaharlal Nehru. Beberapa kali Nehru memprotes diterjunkannya prajurit-prajurit India dalam pertempuran melawan tentara Indonesia. "India mestinya mengikuti Australia dan China yang menolak pemakaian kekuatannya untuk menindas kemerdekaan Indonesia," kata Nehru dikutip Richard McMillan dalam bukunya, The British Occupation of Indonesia: 1945-1946.

Tak sepenuh hati berperang melawan Indonesia, banyak di antara prajurit India-Pakistan membelot. Tak kurang dari 600 serdadu asal Pakistan membelot dan bergabung dengan kubu Republik. "Berperang dan membunuh sesama Muslim yang sedang memperjuangkan kemerdekaan dan keadilan dipandang sebagai dosa besar," ujar Zahir Khan, anak dari seorang prajurit Pakistan yang membelot ke Indonesia, Hikmat Khan, kepada detikX. Tak semua pembelot dari India-Pakistan ini dilandasi pertimbangan agama. Tapi faktor agama (Islam) jelas berpengaruh besar. Meski hanya sebagian kecil dari prajurit-prajurit India yang dikirim ke Indonesia beragama Islam, namun menurut penelusuran Richard McMillan, 60 persen dari para pembelot ini seorang muslim.

Bagaimana kisah prajurit-prajurit India-Pakistan yang membelot ke Indonesia pada 1945, baca selengkapnya di DetikX, Karena Sesama Muslim Dilarang Berperang



(pal/sap)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed