Belanda Pindahkan Problem Lingkungan ke Indonesia
Senin, 29 Agu 2005 13:31 WIB
Den Haag - Belanda akan mengganti bahan bakar pembangkit listriknya dengan minyak kelapa sawit dari Indonesia. Pembela lingkungan di Belanda menentang karena Indonesia akan menanggung kerugian.Salah satu perusahaan pembangkit listrik yang akan beralih bahan bakar ke minyak kelapa sawit itu adalah Electrabel di Nijmegen. Semula Electrabel memakai batubara dengan kebutuhan 70.000 ton. Penggantian dengan minyak sawit yang akan menyedot kebutuhan 50.000 ton itu diharapkan dapat mengurangi pencemaran lingkungan. Rencana itu sudah disetujui Kementerian Keuangan dan Kementerian VROM (Tata Ruang dan Lingkungan) dan kedua departemen itu akan memberikan subsidi. Setelah Electrabel, pembangkit berbahan bakar batubara lainnya siap menyusul, yakni di Geertruidenberg, Maasbracht dan Zwolle. Bahkan pabrik bio-disel berbahan minyak kelapa sawit siap dibangun di Zwijndrecht.Namun pembela lingkungan di Belanda, Milieudefensie (Pertahanan Lingkungan) dan Gelderse Milieufederatie (Federasi Lingkungan Gelder) menentang rencana Electrabel itu. Alasannya, karena keputusan itu akan memicu penggundulan hutan di Indonesia untuk dijadikan lahan kelapa sawit.Dalam situswebnya, Milieudefensie menyebutkan bahwa impor minyak kelapa sawit Belanda dari Indonesia saat ini meningkat 100 persen dalam kurun dasawarsa mutakhir menjadi 515.700 ton. "Untuk memenuhi permintaan bahan bakar biologi, pemerintah Indonesia pada Juli 2005 menyatakan akan membangun perkebunan kelapa sawit terbesar di dunia. (Pembangunan) Itu akan dilakukan Kalimantan, Papua Barat dan dalam skala lebih kecil di Sumatera, di mana satu-satunya hutan tropis di Indonesia masih ada."Menurut Milieudefensie, penggunaan bahan bakar pembangkit listrik dari minyak kelapa sawit itu juga akan mendesak produksi untuk kebutuhan pangan penduduk lokal. Bahan pangan akan hilang di negara asal dan keseimbangan nutrien akan terganggu.Milieudefensie mendesak agar minyak sawit yang diimpor Belanda memenuhi syarat a.l: tidak bersaing langsung dengan kebutuhan pangan penduduk di negara asal, tidak menimbulkan akibat negatif terhadap keseimbangan nutrien, tidak ada konflik hak pemilikan tanah penduduk lokal atas perkebunan, dan tidak ada pemusnahan hutan tropis.Pihak Electrabel berjanji hanya akan menggunakan minyak kelapa sawit 'ramah lingkungan', yang tidak berasal dari lahan yang mengorbankan hutan. Milieudefensie menyatakan bahwa garansi seperti itu tidak bisa diwujudkan.
(es/)











































