DetikNews
Rabu 21 November 2018, 18:27 WIB

PAN soal Amien 'Ancam' Jewer Ketum Muhammadiyah: Cermin Keakraban

Elza Astari Retaduari - detikNews
PAN soal Amien Ancam Jewer Ketum Muhammadiyah: Cermin Keakraban Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir (Foto: dok. detikcom)
Jakarta - Amien Rais menyebut akan menjewer Ketum PP Muhammadiyah Haedar Nashir karena membebaskan kader memilih pada Pilpres 2019. PAN menilai itu sebagai bentuk keakraban seorang senior kepada junior.

"Mas Haedar itu junior Pak Amien di Muhammadiyah, dan beliau berdua sudah saling mengenal dengan sangat akrab. Jadi saya melihat istilah 'menjewer' itu sebagai cermin keakraban," ungkap Wakil Ketua Dewan Kehormatan PAN Dradjad Wibowo kepada wartawan, Rabu (21/11/2018).

Ia lalu mengingatkan soal pertemuan Amien Rais dengan eks Ketum Muhammadiyah lainnya, Buya Syafii Maarif, beberapa hari lalu.

"Seperti juga ketika Pak Amien bercerita tentang pertemuannya dengan Pak Syafii Maarif. Ada keakraban yang kental antara para mantan Ketum dan Ketum Muhammadiyah," sebut Dradjad.


Amien berniat menjewer Haedar bila kader dipersilakan menentukan pilihannya sendiri pada Pilpres 2019. Ini menyusul pesan Haedar kepada warga Muhammadiyah agar arif menghadapi perbedaan pilihan politik.

Pernyataan Amien disampaikan saat 'Tabligh Akbar dan Resepsi Milad Ke-106 Masehi Muhammadiyah' di Islamic Center Surabaya, Selasa (21/11/2018). Menurut Dradjad, pernyataan itu seharusnya dilihat secara utuh.

"Itu bagian dari tausiah kebangsaan Pak Amien. Saya sendiri hadir mendampingi Pak Amien selama di Surabaya. Pak Amien menyampaikan, ketentuan di dalam Islam itu dimaksudkan untuk menjaga dan melindungi agar semua manusia hidup dalam kedamaian, keamanan, dan ketenteraman umum," papar Dradjad.

PAN Soal Amien 'Ancam' Jewer Ketum Muhammadiyah: Cermin KeakrabanDradjad Wibowo (Agung Pambudhy/detikcom)

"Beliau memberi contoh mengenai perintah berbuat adil dalam Alquran. Dan ternyata kata adil ini--yang berasal dari bahasa Arab--dipakai dalam dua sila Pancasila, yaitu Kemanusiaan yang Adil dan Beradab serta Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia," sambung anggota Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno itu.

Pada konteks inilah, kata Dradjad, terdapat lima perkara penting yang harus dijaga dan dilindungi kaum muslimin yang tidak boleh dirusak seorang pun, yakni menjaga agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta.

"Kelima perkara ini dikenal sebagai adh-dharuriyyatul khams. Contohnya membunuh itu menghilangkan jiwa. Umat Islam wajib mencegah pembunuhan dan wajib menghukum pembunuh sesuai aturan," urai Dradjad.

"Politik berperan sangat penting dalam menjaga dharuriyyatul khams itu. Karena itu, kata Pak Amien, warga Muhammadiyah tidak boleh lepas tangan dari politik. Jadi, jika Ketum Muhammadiyah memilih tidak bersikap dalam pilpres, Pak Amien akan mengingatkan beliau. Jika perlu, Pak Amien akan menjewer Mas Haedar," imbuh Dradjad.

Ketua Dewan Kehormatan PAN itu, menurut Dradjad, tak mengarahkan warga Muhammadiyah memilih Prabowo-Sandi dalam pidato itu. Namun ia mengatakan warga Muhammadiyah yang hadir dalam acara menyambut pernyataan Amien soal hal tersebut dengan meriah.


"Pak Amien kemarin tidak secara eksplisit mengarahkan peserta agar memilih Prabowo. Tapi peserta tentu sudah maklum. Respons mereka amat sangat meriah. Terlihat sekali Pak Amien menjadi panutan bagi ribuan warga Muhammadiyah yang hadir kemarin," kata Dradjad.

Seperti diketahui, Amien Rais mendesak Muhammadiyah bersikap pada Pilpres 2019. Ia bahkan 'mengancam' akan 'menjewer' Ketum PP Muhammadiyah Haedar Nashir bila kader dipersilakan menentukan pilihannya sendiri.

"Di tahun politik, tidak boleh seorang Haedar Nashir memilih menyerahkan kepada kader untuk menentukan sikapnya pada pilpres. Kalau sampai seperti itu, akan saya jewer," ucap Amien seperti dilansir Antara.

Menurut Amien, bukan merupakan fatwa jika pimpinan menyerahkan sendiri-sendiri kepada kader terhadap siapa suaranya akan diberikan sehingga dibutuhkan ketegasan demi terwujudnya pemimpin yang sesuai harapan. PP Muhammadiyah, kata dia, tidak boleh diam saja atau tidak jelas sikapnya untuk menentukan pemimpin bangsa ini pada periode 2019-2024.

"Sekali lagi, kalau sampai itu dilakukan, akan saya jewer. Pemilihan presiden ini menentukan satu kursi dan jangan sampai bilang terserah," sebut mantan Ketua MPR tersebut.

Haedar Nashir sebelumnya berbicara tentang Pilpres 2019. Ia meminta warga Muhammadiyah bersikap arif menghadapi perbedaan pilihan politik.

Perbedaan pilihan politik juga menjadi hak warga Muhammadiyah. Tetapi jangan saling menyalahkan, menghujat, dan menyudutkan pihak yang berbeda. Lebih-lebih dengan menggunakan dalih agama dan atas nama Muhammadiyah," jelas Haedar dalam pernyataan tertulis yang diterima detikcom, Jumat (24/8).
(elz/fjp)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed