DetikNews
Rabu 21 November 2018, 16:59 WIB

Sopir Truk Batu Bara Bertahan di Kantor Gubernur Sumsel

Raja Adil Siregar - detikNews
Sopir Truk Batu Bara Bertahan di Kantor Gubernur Sumsel Foto: Demo sopir truk batu bara (Raja-detik)
Palembang - Ratusan sopir truk batu bara hingga sore ini masih bertahan di depan Kantor Gubernur Sumatera Selatan. Sopir menuntut pemerintah agar mengizinkan truk batu bara kembali melintas di jalan umum.

"Kami akan tetap bertahan di sini sampai ada keputusan. Kami menolak kebijakan Pemprov terkait angkutan batu bara tak boleh melintasi jalan umum," kata Korlap aksi, Satria kepada wartawan di halaman kantor gubernur, Rabu (21/11/2018).

Hari ini, kata Satria, dia datang bersama para sopir truk untuk menolak kebijakan gubernur yang melarang truk batu bara melintasi jalan umum. Dia menganggap kebijakan itu berdampak pada semakin banyaknya pengangguran.

Bahkan dia mengklain selama ini jalanan macet bukan hanya akibat dari angkutan truk batu bara. Melainkan adanya kereta api yang melintas sejak adanya rel ganda di Ujan Mas, Gunung Megang, Belimbing dan Gelumbang.

"Alasan macet? Macet bukan cuma dari truk yang buat, tapi ada kereta api bawa batu bara dan itu juga bikin macet. Saat ini banyak sopir, kernek dan pegawai di dermaga yang nganggur. Termasuk ada juga pedagang tidak ada pembeli," imbuh Satria.

"Dishub sudah ada mengeluarkan aturan dan toleransi, ini juga seharusnya jangan tidak adil. Truk batu bara seharunya juga boleh melintas, asal tidak siang hari dan tidak konvoi. Jadi jangan truk batu bara saja yang dilarang, yang lain juga," tegas pria berambut gondrong tersebut.

Sebagaimana diketahui, hingga sore ini truk yang biasa mengangkut batu bara dari Lahat, Muara Enim ke Palembang masih terparkir di jalan Kapten A.Rivai. Akibatnya terjadi penyempitan jalan di depan kantor gubernur Sumsel tersebut.

Menanggapi aksi damai ratusan sopir truk, Sekretaris Daerah Provinsi Sumsel Nasrun Umar telah menemui masa. Dia mengaku pemerintah akan mencarikan solusi bagi para sopir truk batu bara.

"Sebenarnya ini bukan pertama, sudah pernah kami beri kesempatan 2 tahun menggunakan jalan Raya. Semestinya perusahaan tambang sudah menyiapkan jalan khusus. Tapi kami tetap carikan solusi terbaik," kata Nasrun.

"Gubernur udah memanggil pemilik jalan untuk mengangkut batu bara. Karena ini sistemnya tidak boleh pakai mobil kecil, maka di stop. Kami berpihak pada para pedagang dan sopir, tapi kita tentu harus fikirkan jangka panjangnya," kata Nasrun lagi.

Nasrun mengaku tidak bisa mengambil keputusan karena Gubernur Sumatera Selatan, Herman Deru sedang berada di luar kota.

Menunggu kepastian itu, sopir para truk pun tetap bertahan. Beberapa sopir pun terlihat ada yang membawa alas untuk tidur di halaman kantor gubernur.
(ras/asp)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed