Cerita Para Ibu Rumah Tangga di Riau Hadang Pembalak Liar

Chaidir Anwar Tanjung - detikNews
Rabu, 21 Nov 2018 15:30 WIB
Pembabatan hutan di Riau. (Chaidir/detikcom)
Pekanbaru - Sudah dilaporkan ke pihak kepolisian setempat, tapi aksi pembalakan liar di Kabupaten Kampar, Riau, terus berlanjut. Puncaknya, emak-emak warga desa menghadang para pelaku.

Baru-baru ini, sejumlah emak-emak tak tahan membendung emosinya. Ini karena hutan desa mereka dirambah secara besar-besaran. Karena itu, emak-emak dari Desa Mentulik, Kecamatan Kampar Kiri Hilir, Kabupaten Kampar, Riau, turun ke hutan.



Dengan mengenakan pakaian sederhana, mereka mendatangi para perambah yang lagi menarik kayu di sungai kecil. Kayu-kayu hasil perambahan akan diangkut dengan mobil.

Sejumlah emak-emak marah. Mereka menghadang para pelaku yang telah menghancurkan hutan alam mereka.

"Emak-emak turun karena dari segi adat kami, bahwa hutan larangan kami merupakan hak mereka. Secara garis adat, emak-emaklah yang akan mewarisi hutan adat kami," kata tokoh masyarakat desa setempat, Basrul (69), kepada detikcom, Rabu (21/11/2018).

Menurut Basrul, para emak-emak menduduki kayu-kayu hasil jarahan liar. Mereka mendatangi kawasan hutan yang dijadikan tempat penumpukan illegal logging.

"Emak-emak itu yang kini menahan puluhan batang kayu hasil perambahan," kata Basrul.



Kaum Hawa warga desa marah, kata Basrul, karena bentuk kekecewaan kepada aparat yang menutup mata atas perambahan hutan larangan. Hutan larangan selama tidak boleh diambil kayunya. Karena hutan larangan ditumbuhi jenis kayu kuring tempat singgahnya lebah madu. Pohon yang disinggahi lebah madu mereka sebut pohon sialang.

"Usia pohon sialang itu sudah lebih dari 100 tahun. Tapi kini malah pohon tersebut dijarah besar-besaran. Aparat pemerintah tak berkutik atas aksi pembalakan liar," kata Basrul.

Karena ada penghadangan dari emak-emak tersebut, kini para pelaku perambah hutan sedikit menjauh dari lokasi desa. Para pelaku tetap menjarah hutan tanpa ada tindakan apa pun dari aparat pemerintah.

"Setiap hari ada 5 truk pengangkut kayu yang membawa dari dalam kawasan hutan. Sudah kita laporkan ke aparat, tapi tak pernah ditanggapi," kata Basrul. (cha/asp)