DetikNews
Rabu 21 November 2018, 05:50 WIB

Tragedi Paus Akibat Sampah Terbawa Arus

Bagus Prihantoro Nugroho, Yulida Medistiara, Gibran Maulana Ibrahim - detikNews
Tragedi Paus Akibat Sampah Terbawa Arus Isi perut bangkai paus sperma di Wakatobi. (Dok. Istimewa)
Jakarta - Bangkai paus sperma yang terdampar di perairan Pulau Kapota, Wakatobi, Sulawesi Tenggara. menyisakan cerita sedih. Bukan cuma soal paus yang mati, tapi juga tentang sampah-sampah yang terbawa arus laut dan akhirnya bersarang di perut si paus.

"Adanya indikasi kematian disebabkan oleh asupan cemaran plastik sampah tersebut bisa saja terjadi, namun tidak dapat dipastikan karena tidak dilakukan pengamatan yang komprehensif, di antaranya karena kondisi paus sudah kode 4 (pembusukan tingkat lanjut), kondisi paus yang sudah tidak utuh," kata Marine Species Conservation Coordinator WWF Indonesia, Dwi Suprapti, saat dimintai konfirmasi, Selasa (20/11/2018).



WWF belum bisa menyimpulkan apakah sampah plastik jadi penyebab utama kematian paus tersebut. Dwi juga tak mengetahui persis kondisi sebaran sampah dalam tubuh paus itu.

"Sebab, dalam beberapa kasus, mekanisme tubuh makhluk hidup dapat mengeluarkan benda asing secara natural, asalkan jumlahnya tidak banyak, tidak menyumbat saluran pencernaan, serta tidak menginfeksi atau bahkan meracuni tubuhnya," kata Dwi.

Senada dengan WWF, LIPI juga tak bisa menyimpulkan apakah sampah tersebut adalah penyebab utama kematian paus itu. Walau begitu, tetap saja sampah plastik tergolong benda yang tak bisa dicerna.

"Plastik itu kan susah (hancur), kalau sampah organik mungkin bisa. Berbeda, misalnya, dengan tanduk hewan. Walaupun keras, itu kan zat kapur, sehingga bisa dicerna. Seperti kita makan tulang ikan, tetap bisa dicerna, kan?" kata Kapus Penelitian Laut Dalam LIPI Dr Ir Augy Syahailatua kepada detikcom.



Walau bukan penyebab utama dalam kasus ini, sampah-sampah yang terbawa arus laut bukan kali ini saja ditemukan di tubuh satwa laut. Augy mengungkapkan, kasus serupa banyak ditemukan oleh LIPI.

"Di berbagai jenis ikan, termasuk di tuna, juga pernah kita temukan," ujar Augy.

Sampah, kata Augy, bisa bersarang di pencernaan satwa seperti paus. Selain itu, bisa tersangkut di insang tapis satwa air raksasa tersebut.

"Kalau paus kan makanannya bukan binatang, melainkan plankton. Jadi semua bisa masuk, termasuk sampah," kata Augy.

Sampah-sampah yang ditemukan di perut bangkai itu bermacam-macam. Dari sandal hingga gelas plastik.

"Hasil identifikasi isi perut paus yang dilakukan di kampus AKKP Wakatobi menemukan sampah plastik dengan komposisi sampah gelas plastik 750 gr (115 buah), plastik keras 140 gr (19 buah), botol plastik 150 gr (4 buah), kantong plastik 260 gr (25 buah), serpihan kayu 740 gr (6 potong), sandal jepit 270 gr (2 buah), karung nilon 200 gr (1 potong), dan tali rafia 3.260 gr (lebih dari 1.000 potong). Adapun total berat basah sampah 5,9 kg," ujar Kepala Balai Taman Nasional Wakatobi Heri Santoso.

Penemuan sampah dalam perut paus tetap saja sebuah tragedi, walau belum tentu penyebab utama kematiannya. Dari sini terlihat betapa tercemarnya lautan oleh ulah manusia.


Simak Juga 'Miris! Isi Perut Bangkai Paus Ini Dipenuhi Sampah':

[Gambas:Video 20detik]



(bag/zak)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed