DetikNews
Minggu 18 November 2018, 17:15 WIB

Nijikon, Saat Gambar Komik Lebih Menggairahkan Ketimbang Manusia

Danu Damarjati - detikNews
Nijikon, Saat Gambar Komik Lebih Menggairahkan Ketimbang Manusia Foto: Karakter manga anak gadis berseragam sekolah di Jepang. (AFP)
Jakarta - Di Jepang, kegemaran kaum pria terhadap lolicon memunculkan selera yang aneh. Mereka menjadi lebih bergairah terhadap karakter komik yang imut ketimbang manusia nyata.

Selera seperti itu disebut sebagai nijigen konpurekkusu (nijikon) atau kompleks dua dimensi. Seseorang yang mengidap nijikon akan menganggap karakter fiksi dua dimensi lebih menarik ketimbang orang sebenarnya yang hidup di alam tiga dimensi, demikian dijelaskan dalam buku 'Seeing Fans: Representation of Fandom in Media and Popular Culture'.

Pada tahun '80-an, muncul majalah-majalah yang khusus membahas soal lolicon, salah satunya adalah Manga Burriko. Saat itu, Manga Burriko menyajikan gambar karakter kartun dua dimensi dan juga foto gadis nyata sebagai halaman depan. Namun saat demam lolicon sedang di puncaknya, muncul komplain terhadap foto gadis nyata di halaman depan itu.

"Saya punya kompleks dua dimensi (nijikon). Saya tidak merasakan apapun terhadap foto di halaman depan. Untuk itu, saya ingin Anda menghentikan gambar-gambar itu dan menampilkan manga saja," kata seorang pembaca bernama Kawaguchi Toshihiko dari Hokkaido kepada majalah itu, pada Agustus 1983.


Editor Manga Burikko kala itu menolak untuk menghentikan foto manusia nyata di majalahnya. Selanjutnya, masih tetap ada foto perempuan bugil di iklan. Hal itu dijelaskan oleh Patrick W Galbraith dalam 'Lolicon: The Reality of Virtual Child Pornography in Japan'.

Lolicon (loli) merupakan istilah untuk menyebut ketertarikan orang terhadap anak gadis. Istilah ini kemudian berkembang menjadi salah satu gaya dalam komik jepang (manga), kartun (anime), dan gim komputer yang menonjolkan karakter anak gadis sebagai daya tariknya.

Karakter gadis berseragam sekolah, berpakaian imut, dan berdandan warna-warni sering ditemui di pelbagai manga, anime, dan gambar-gambar. Dalam bentuk terbarunya, karakter gadis hologram yang bernyanyi, Hatsune Miku. Jelas, Hatsune Miku bukanlah manusia nyata melainkan rekaan audio visual yang kreatif.

Nijikon, Saat Gambar Komik Lebih Menggairahkan Ketimbang ManusiaAkihiko Kondo menikahi Hatsune Miku (Behrouz Mehri/AFP)

Meski begitu, ada yang menikahi Hatsune Miku, karakter yang direka sebagai gadis 16 tahun. Seorang pria Jepang bernama Akihiko Kondo (35) mengikat janji suci pernikahan dengan boneka menyerupai Hatsune Miku. 39 Orang diundang ke upacara pernikahan mewah, termasuk anggota parlemen. Hal itu diberitakan Nextshark pada Minggu (11/12/2018) kemarin.


Dilansir CNN lewat berita 17 Desember 2009, pria Jepang yang menamakan dirinya Sal 9000 menikahi karakter gim 'Love Plus' dari Nintendo DS, nama karakter tersebut adalah Nene Anegasaki. Dia adalah sosok kartun.

Pada 2010, pria Korea bernama Lee Jin-gyu menikahi 'dakimakura' atau bantal besar. Bantal besar itu bergambar karakter anime favoritnya yakni Fate Testarossa. Waifu, begitulah para pendemen anime menyebut istri-istri fiksi itu.

Tendensi seksual dalam manga lolicon

Sejak kemunculan pertamanya di akhir '70-an, manga loli sudah menampakkan tendensi seksual, sebagian menganggapnya sebagai pornografi. Meski mesum, namun manga dan anime loli tetap mempertahankan unsur 'kawaii' atau 'keimutan'.

Namun Gailbraith menjelaskan, meski ada fungsi dan efek pornografi, pengertian lolicon sudah lebih luas dari batasan khusus tentang gadis kecil. Kini yang dipertahankan adalah kadar kawaii atau keimutan si tokoh fiksi.

"Hasrat terhadap gambar dua dimensi tak hanya untuk gadis itu saja, namun juga untuk kualitas ke-gadis-an, disimbolkan lewat keimutan (kawaii)," tulis Galbraith.

Nijikon, Saat Gambar Komik Lebih Menggairahkan Ketimbang ManusiaFoto: Gim komputer Lolita Syndrom (Copyright 1983 by Katumi Mochizuki/Enix)

Bagaimana bisa otaku (penggemar manga) bisa segila itu? Bagaimana mereka bisa jatuh cinta terhadap karakter fiksi?


Menurut Saito Tamaki, otaku sadar bahwa hal yang mereka dambakan adalah fiksi. Dia justru mempertahankan ruang fiksi itu sebagaimana adanya. Contoh, otaku tak ingin wajah anime seperti dalam gambar menjadi nyata di wajah manusia. Mata besar hanya ada di komik dan tidak untuk diwujudkan di dunia nyata.

The Guardian memberitakan PBB meminta Jepang melarang gambar berkonten kekerasan seksual terhadap anak-anak pada manga. Situs hummantrafficking.org menjelaskan, Jepang adalah pusat produksi dan distribusi gambar kekerasan terhadap anak, termasuk prostitusi terhadap anak dengan seragam sekolah dan busana lainnya yang memenuhi hasrat pedofilia.

Namun soal keterkaitannya dengan manga, pihak kreator manga tak semua sepakat bila Jepang mematuhi PBB untuk melarang pornografi dalam manga. Bahkan, mereka menyangkal adanya konten pornografi dalam manga.

"Tak ada yang namanya pornografi manga dan anime. Pornografi anak mensyaratkan keterlibatan anak-anak, dan kita harus melawan itu. (PBB) Bermaksud menseksualisasi penggambaran karakter kekanak-kanakan dalam manga dan anime. Banyak seniman pria dan wanita di Jepang yang menggambar karakter dengan gaya ayng seperti anak-anak di mata orang Barat. Itu adalah penolakan terhadap gaya seni populer di Jepang," kata Dan Kanemitsu, seorang penerjemah manga yang vokal soal isu ini.


(dnu/tor)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed