DetikNews
Minggu 18 November 2018, 15:15 WIB

Mengapa Normalisasi Kali Ciliwung Mandek?

Gresnia Arela F - detikNews
Mengapa Normalisasi Kali Ciliwung Mandek? Foto: Dok. Kemen PUPR
Jakarta - Rumah-rumah semipermanen berukuran 3x4 meter berimpitan di bantaran Kali Ciliwung, di atas Pintu Air Manggarai. Rumah-rumah itu dibatasi gang sempit, yang hanya muat untuk dua orang. Di lorong-lorong gang, warga menjalani keseharian, seperti berjualan makanan-minuman dan mencuci baju ataupun perabot.

Selokan yang menghitam dan bau tak sedap yang menguar dari saluran pembuangan seolah sudah akrab dengan kehidupan mereka. Sementara itu, air Ciliwung di belakang rumah mereka berwarna cokelat dan keruh. Macam-macam sampah hanyut terbawa arus.

Menurut data Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung-Cisadane (BBWSCC), bantaran kali yang berubah menjadi kampung padat penduduk di RT 11/04, Kelurahan Manggarai, Kecamatan Tebet, Jakarta Selatan, itu termasuk yang bakal dinormalisasi. Setidaknya ada 30 rumah yang akan terkena proyek itu.

Namun proyek normalisasi wilayah itu, juga sebagian daerah di Jakarta yang dilintasi Ciliwung, belum juga dilakukan. Proyek normalisasi berhenti pada 2017 lalu. Setelah itu, belum ada lagi rencana melanjutkan normalisasi kali yang paling 'menderita' di Jakarta tersebut. Padahal banjir terus mengancam.

Normalisasi Ciliwung merupakan bagian dari Program Penanganan Banjir Nasional yang dicanangkan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR). Proyek ini juga terintegrasi dengan normalisasi Sungai Cisadane, pembangunan sodetan Ciliwung, pengamanan pantai Jakarta, dan pembangunan polder Kali Mati.

Normalisasi dilakukan dengan melebarkan sungai menjadi 35-50 meter, memperkuat tebing, dan membangun tanggul. Sempadan sungai difungsikan sebagai jalan inspeksi dengan lebar 6-8 meter. Kapasitas daya tampung air sungai ditingkatkan dari 200 meter kubik per detik menjadi 570 meter kubik per detik. Juga dilakukan penataan kawasan di sekitar Sungai Ciliwung.

Proyek normalisasi Ciliwung terbagi menjadi empat ruas. Pertama, ruas dari hulu, yakni jembatan Tol TB Simatupang-Jembatan Condet (Jakarta Timur) dengan target pembuatan tanggul sepanjang 7,58 km. Ini meliputi Kelurahan Gedong, Tanjung Barat, dan Pejaten Timur.

Kedua, ruas jembatan Condet-jembatan Kalibata sepanjang 7,55 km di Kelurahan Balekambang, Pejaten Timur, dan Rawajati. Ketiga, ruas jembatan Cawang-jembatan Kampung Melayu sepanjang 8,82 km di Kelurahan Cawang, Pengadegan, Cikoko, Bidara Cina, dan Kebon Baru. Keempat, ruas jembatan Kampung Melayu sampai Pintu Air Manggarai sepanjang 9,74 km di Kelurahan Manggarai, Kampung Melayu, dan Bukit Duri.

Hunian di bantaran Kali CiliwungHunian di bantaran Kali Ciliwung Foto: Agung Pambudhy
Total panjang Ciliwung yang melintas di Jakarta dan dinormalisasi sejak 2013 adalah 33,69 km. Namun, hingga akhir 2017, BBWSCC hanya mampu merampungkan 16,38 km. "Pada akhir kegiatan, ternyata kami hanya sanggup menyelesaikan 16,38 km dari 33,69 km. Kurang-lebih baru 44 persen yang baru dilaksanakan normalisasi," kata Kepala BBWSCC Bambang Hidayah kepada detikcom di kantornya, Jalan Inspeksi Saluran Tarum Barat, Cipinang Melayu, Jakarta Timur, Kamis, 18 Oktober 2018.

Bambang mengatakan, sejak Februari 2018, semua kegiatan proyek normalisasi dihentikan sementara. Hal itu dilakukan karena menunggu permasalahan pembebasan lahan yang dilakukan Pemprov DKI Jakarta. Juga menunggu keputusan pengadilan terkait gugatan warga yang lahannya terkena dampak.

Pemprov DKI Jakarta sendiri berupaya merelokasi warga di sekitar Sungai Ciliwung ke Rumah Susun Rawa Bebek di Cakung dan Klender, Jakarta Timur. Namun, tak semua warga setuju dengan solusi itu karena rusun itu dianggap jauh. Sebagian warga juga menginginkan adanya uang ganti rugi. "Saya tidak tahu persis jumlahnya berapa, cuma kan yang melakukan itu Pemprov DKI Jakarta. Ada tim pengadaan lahan. Kalau dulu namanya Tim Sembilan istilahnya," ujar Bambang.

Selama ini pengerjaan proyek normalisasi dilakukan secara paralel. Proyek baru bisa dikerjakan setelah ada daerah yang dibebaskan. Kendati demikian, masih ada hambatan lain di lapangan, seperti banyaknya gedung bertingkat, pabrik, dan padatnya penduduk, yang membuat sulit akses masuk alat berat ke lokasi.

"Komitmen Pemprov, (proyek) tetap melanjutkan. Permasalahan cuma itulah, masyarakat itu ada yang ahli warisnya sudah dibebaskan, tapi ada juga yang belum. Kendalanya banyak sekali, sehingga prosesnya lama," tuturnya.

Ulasan selengkapnya dapat Anda baca di detikX edisi 13 November 2018



Saksikan juga video ' Normalisasi Sungai Ciliwung Terkendala Pembebasan Lahan! ':

[Gambas:Video 20detik]


Mengapa Normalisasi Kali Ciliwung Mandek?


(zal/irw)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed