DetikNews
Minggu 18 November 2018, 13:50 WIB

Orang Indonesia Biasa Akses Lolicon via Internet

Danu Damarjati, Adhi Indra Prasetya - detikNews
Orang Indonesia Biasa Akses Lolicon via Internet Karakter manga anak gadis berseragam sekolah di Jepang. (AFP)
Jakarta - Penggemar manga dan anime (otaku) dari Indonesia juga banyak yang suka dengan lolicon. Mereka mengakses komik dan animasi berkarakter gadis imut itu lewat internet.

Botsy, pria otaku 21 tahun yang menjadi adiministrator grup Facebook Loli Addict Indonesia, mengaku biasa mengakses manga dan anime lolicon via daring berbahasa asing. Soalnya, tak semua karya ada versi cetak Bahasa Indonesianya.

"Saya baca versi English digital. Tapi kalau lama nunggu terjemahannya, saya baca raw manga (berbahasa Jepang -red)," kata Botsy.

Anime berjudul 'Gosick' dan manga 'My Girlfriend Without Wasabi' yang dia baca saat masih SMA membuatnya tertarik untuk menikmati karya bergenre lolicon lebih banyak lagi. Dia merasa bahagia bila melihat karakter loli.



Ada otaku bernama Defri Lailatul Ikhsan (28) bekerja di salah satu platform komik online. Dia menyatakan banyak komik bergenre lolicon tersedia di situs tempat dia bekerja.

"Cuma (manga bergenre loli) bukan berasal dari Indonesia. Kalau di platform lain, ada juga komik loli dari Indonesia," kata Defri saat berbincang dengan detikcom di Mal Bassura City, Jl Basuki Rahmat, Jakarta Timur, Rabu (14/11/2018).

Defri yang merupakan salah satu administrator grup Facebook Komunitas Mangaka Indonesia (KMI) ini mengaku bukan penggemar genre lolicon. Namun di lingkungan penghobi manga, banyak pula yang diamatinya gandrung terhadap lolicon.

"Loli itu lumayan populer sebenarnya," kata dia.


Komik loli di Jepang punya jejak konten pornografi sejak awal kemunculannya. Kecenderungan terhadap eksplorasi seksualitas gadis kecil atau yang menyerupai gadis kecil membuat lolita dianggap mengandung selera pedofilia. Terlebih di Indonesia, sempat ada grup Facebook Official Loly Candi's 18+ yang menyebarkan pornografi anak. Sempat pula laporan dari Nafa Urbach yang tak terima karena anaknya dikatakan sebagai 'loli'. Namun para penggemar tak ingin lolicon disamakan dengan pedofilia.

Orang Indonesia Biasa Akses Lolicon via InternetGambar karakter manga bergaya lolicon. (Wibu Creative)


Seorang penggemar lolicon ketua grup Facebook Wibu Creative, Naufal Azri Khairuzzaman (18) tak memungkiri ada konten pedofilia di beberapa kartun lolicon. Namun dia tak tertarik dengan unsur pornografi semacam itu.

"Pasti di anime ada. Ada karakternya yang kecil-kecil gitu, yang bikin kita merasa, 'Ihh.. ini imut!' Gitu. Tapi ya saya biasa saja," ujar Naufal, saat berbincang dengan detikcom di Sarinah, Jl MH Thamrin, Jakarta Pusat, Rabu (14/11/2018).


Wakil Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Rita Pranawati menilai konten pornografi dalam komik, animasi, dan gim memang tinggi. Namun khusus untuk komik dari Negeri Sakura, kontrol terhadap peredaran di internet memang susah.

"Yang produk penerbitan saja masih ada bolong-bolongnya, apalagi yang komik online," kata Rita, ditemui detikcom di Kampus UHAMKA, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Untuk mengontrol supaya konten pornografi tidak berpengaruh buruk, Rita menekankan pentingnya edukasi ke anak-anak. Di era informasi yang semakin maju, peran orang tua terkadang tercecer perkembangan teknologi. Maka peran sekolah sebagai institusi dilihatnya punya peran penting dalam memberi pemahaman terhadap anak.

"Jadi walaupun orang tuanya sudah mengedukasi, masih ada 20% yang terkena paparan pornografi. Apalagi yang tidak mengedukasi, yang tidak tahu sama sekali, jauh lebih besar persentasenya," kata Rita.

Berkaitan dengan ini, Rita menyampaikan data KPI tentang kasus pengaduan anak berdasarkan klaster perlindungan anak. Dari tahun 2011 sampai 2018, kasus pornografi dan kejahatan siber tercatat berjumlah 3.096 pengaduan. Di antaranya ada korban kejahatan seksual online, anak pelaku kejahatan seksual online, anak korban pornografi dari media sosial, anak pelaku kepemilikan media pornografi, anak korban bullying di media sosial, dan anak pelaku bullying di media sosial.


Soal komik, dia mengingat dua tahun lalu banyak beredar komik-komik yang mengandung pornografi. Namun saat ini angkanya justru naik, bukan karena peredaran komik cetak namun karena langsung via sosial media.

Botsy sebagai penggemar loli menilai sulit untuk mengontrol konten pornografi dalam komik di internet. "Saya pikir itu sia-sia, orang-orang pasti punya cara untuk mengaksesnya. Yang dibutuhkan sebenarnya adalah edukasi (kepada generasi muda)," kata Botsy.

Di negara asal lolicon, ketegasan dalam menindak konten pornografi dalam manga juga masih menjadi perdebatan. The Guardian dalam berita 27 Oktober 2015 menjelaskan, PBB meminta jepang untuk melarang peredaran manga yang berkonten kekerasan seksual terhadap anak-anak. Namun di Jepang sendiri, ada resistensi dari kreator manga karena masalah ini bakal berurusan dengan kebebasan berekspresi. Jepang, sejak 2014, masih sebatas melarang kepemilikan gambar foto kekerasan terhadap anak, namun belum sampai ke pelarangan manga, anmime, dan gambar komputer yang memuat hal itu.

"Ketika berkaitan dengan hal khusus, konten pornografi anak yang ekstrem, manga seperti itu harus dilarang," kata utusan perlindungan anak dari PBB, Maud de Boer Buquichhio saat itu.



(dnu/tor)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed