DetikNews
Minggu 18 November 2018, 10:52 WIB

Wibu dan Otaku di Indonesia: Lolicon Bukan Pedofilia

Danu Damarjati, Adhi Indra Prasetya - detikNews
Wibu dan Otaku di Indonesia: Lolicon Bukan Pedofilia Gambar karakter manga bergaya lolicon. (Wibu Creative)
Jakarta - Di Indonesia, istilah lolicon sempat melekat dengan pedofilia. Namun penggemar manga (komik Jepang) lolicon menolak penyamaan lolicon dengan pedofilia.

Sempat terungkap jaringan 'Official Loly Candy's 18+' yang merupakan grup Facebook penyebar konten pedofilia. Ada pula artis Nafa Urbach yang melapor ke polisi karena putrinya disebut 'loli'. Tak lama kemudian, muncul petisi atas nama Lolicon Justice Indonesia di change.org yang menyerukan dukungan untuk menyelamatkan lolicon, "Save Lolicon, They are not Pedophile!!"

Manga dan anime gaya loli juga memiliki penggemar di Indonesia. Orang yang gandrung dengan manga disebut sebagai otaku. Mereka menegaskan loli bukanlah pedofilia.

"Lolicon itu tidak bisa disebut pedofil," kata seorang otaku bernama Naufal Azri Khairuzzaman (18) saat berbincang dengan detikcom di Mal Bassura City, Jl Basuki Rahmat, Jakarta Timur, Rabu (14/11/2018).



Naufal adalah otaku pendemen lolicon yang sehari-harinya bekerja sebagai karyawan swasta di Jakarta. Dia kini juga menjadi ketua komunitas Wibu Creative di Facebook, diikuti 4.774 akun. Sekadar informasi, wibu (weeaboo) merupakan istilah populer yang digunakan untuk menunjuk orang non-Jepang yang sangat suka dengan hal yang berbau Jepang, termasuk manga dan animenya.

Wibu dan Otaku di Indonesia: Lolicon Bukan PedofiliaNaufal dari Wibu Creative (Adhi Indra Prasetya/detikcom)


Kembali ke perbincangan dengan Naufal, dia menjelaskan, penggemar lolicon bakal melindungi anak kecil dari pedofilia. Memang penggemar lolicon biasanya laki-laki. Mereka suka karakter lolicon karena karakter tersebut lucu dan menggemaskan. Namun persepsi bahwa 'penggemar loli adalah pedofilia' tak bisa dimungkiri adanya, Naufal pernah punya pengalaman tidak enak.

"Jadi waktu itu saya lagi main sama saudara (gadis kecil), lagi jalan berdua. Terus ada teman nyamperin, 'Lu lolicon, Fal?' Bahkan kita itu cuma ngajak main aja, keliling, tiba-tiba dia ngomong 'lolicon'. Ya gimana gitu rasanya," tutur Naufal.


Dalam manga dan anime berlanggam loli, konten-konten yang menjurus ke arah seksual memang ada. Naufal mengaku gambar dua dimensi seperti itu bisa membuat terangsang. Namun itu tak sampai berlanjut ke tindakan pedofilia.

"Bohong kalau nggak terangsang. Tapi ya hanya sampai situ saja, tidak sampai disalurkan (untuk melakukan hal yang tidak-tidak). Cuma sekadar melihat saja," kata Naufal.

Beralih lokasi ke Gedung Sarinah, Jl MH Thamrin, Jakarta Pusat, detikcom mewawancarai Defri Lailatuh Ikhsan (28), seorang desainer grafis di platform komik daring. Dia adalah admin dari Komunitas Mangaka Indonesia (KMI) yang punya 3.630 akun pengikut. Tidak seperti Naufal, Defri bukanlah penggemar loli. Namun sebagai sesama otaku, dia bisa memahami.

"Penggemar genre ini (loli) banyak yang tidak mau disamakan dengan pedo (pedofil). Agak beda, mirip tapi tidak sama," kata Defri.

Wibu dan Otaku di Indonesia: Lolicon Bukan PedofiliaDefri dari Komunitas Mangaka Indonesia (Adhi Indra Prasetya/detikcom)


Dijelaskannya, karakter loli tak mesti merupakan anak di bawah umur. Ada pula karakter atau bahkan manusia asli pemeran karakter (cosplay) yang sebenarnya sudah dewasa namun punya kadar keimutan yang tinggi, sehingga disebut loli.


Ada sebagian penggemar Loli yang memang punya kecenderungan berlebihan, misalnya ingin menikahi waifu alias karakter anime yang dicintainya bak istri (wife). Ada pula pria yang cuma bisa terangsang ke gambar karakter anime atau manga loli. Defri melihat hal-hal itu dengan perasaan aneh.

"Gimana ya, jijik iya, tapi dia sukanya seperti itu. Lebih ke kasihan sih. Ada juga kan yang tidak terangsang lagi dengan orang di kehidupan nyata, itu saya lebih kasihan sih," tutur Defri.

Ada grup Loli Adict Indonesia di Facebook yang diikuti 10.366 akun. Dalam pernyataannya, kepala admin grup ini berkomtimen untuk tidak menyebarkan gambar yang vulgar dan meyebabkan perilaku menyimpang. Mereka tahu banyak orang menyamakan lolicon dengan pedofilia, padahal tidak seperti itu sebenarnya.

Salah seorang admin yang hanya menyebut dirinya sebagai Botsy bersedia berbincang dengan detikcom lewat chat Facebook Messenger. Botsy suka dengan karakter loli karena kagum, bukan terangsang secara seksual.

"Seperti ada kebahagiaan kalau aku melihat loli. Mungkin ini yang disebut cinta?" kata Botsy. Dia tak memungkiri, ada unsur seksual dalam kesukaannya terhadap loli. "Saya tidak munafik, dan ya, kadang memang begitu, tapi ya cuma itu saja, cuma untuk saya pribadi di dalam kepala saya."

Soal manga atau anime loli bermuatan pedofilia, menurutnya itu sulit untuk disensor di era teknologi informasi ini. Orang-orang bakal menempuh segala macam cara untuk dapat mengaksesnya via internet. Meski ada konten bermuatan pedofilia, namun dia berpendapat lolicon tidak mendorong perlilaku pedofilia.



(dnu/tor)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed