DetikNews
Minggu 18 November 2018, 09:19 WIB

Lolicon: Saat Pria Berfantasi tentang Gadis di Bawah Umur

Danu Damarjati - detikNews
Lolicon: Saat Pria Berfantasi tentang Gadis di Bawah Umur Karakter manga anak gadis berseragam sekolah di Jepang, bergaya lolicon. (AFP)
Jakarta - Ada satu corak budaya populer Jepang yang kadang dihubungkan dengan pedofilia, yakni lolicon. Pria dewasa menjadi gandrung dengan gadis di bawah umur. Bagaimana bisa?

Masyarakat Jepang terobsesi dengan segala hal yang imut, ini tercermin juga dalam komik-komik Jepang. Kawaii, begitu istilah populer hingga ke khalayak internasional.

Istilah 'kawaii' bahkan sudah masuk ke dalam Kamus Inggris Collins sejak 2014. "Merupakan gaya artistik dan budaya Jepang yang menekankan kualitas keimutan, menggunakan warna-warna cerah dan karakter dengan penampilan seperti anak kecil," begitulah Collins mengartikannya.

Di Jepang sendiri, pria-pria dewasa banyak yang gandrung (entah seksuil atau non-seksuil) dengan perempuan kawaii. Stacey Dooly dalam investigasi BBC, "Young Sex for Sale in Japan", memperlihatkan bagaimana gemarnya bapak-bapak berkunjung ke kafe yang menawarkan 'interaksi berbayar' dengan gadis-gadis imut.


Seorang produser film mesum juga menilai pria-pria Jepang banyak yang mengidap kompleks lolita (lolita complex). Dia mengaku, produksi film mesum dengan pemeran gadis kecil 6 tahun bisa meraup keuntungan 5 kali lipat ketimbang menggunakan bintang film usia SMA.

Lolicon: Saat Pria Berfantasi tentang Gadis di Bawah UmurJK Cafe berselera kultur kawaii di Jepag. (Will Ripley/CNN)

Obsesi terhadap keimutan gadis juga tercermin di lolicon. Makhluk apa lolicon itu sebenarnya?

Lolicon (lolita complex) adalah istilah untuk mendeskripsikan ketertarikan orang terhadap anak gadis. Apakah lolicon merupakan bagian budaya?


"Kadang lolicon dideskripsikan sebagai subkultur, namun lolicon sebenarnya lebih kepada fenomena media yang mewabah," tulis Patrick W Galbraith dari The University of Tokyo dalam tulisan 'Virtual Child Pornography in Japan'.

Istilah lolicon berawal dari Barat lewat novel monumental Vladimir Nabokov berjudul Lolita (1955), memuat cerita obsesi pria dewasa dengan gadis 12 tahun. Namun publik Jepang lebih terasosiasi dengan istilah itu lewat karya terjemahan Russel Trainer berjudul The Lolita Complex (1969).

Nuansa seksual tak dimungkiri merupakan hal yang menonjol bila berbicara soal lolicon dalam manga. Mulai 1979, muncul manga dengan konten gadis bugil. Manga shojo (diperuntukkan bagi pembaca perempuan) kemudian berkembang menyasar konsumen pria dewasa. Mulai tahun 1980-an, banyak pria muda yang lebih menyukai gambar dua dimensi shojo ketimbang foto pornografi.

Pada 1979, barulah lahir karya yang berpengaruh untuk langgam lolicon, yakni kompilasi White Cybele (1979) karya Azuma Hideo. Di kemudian hari, Hideo dijuluki sebagai "Bapak Lolicon". Gambar yang ditampilkan Hideo punya karakter yang sama dengan karya Osamu Tezuka (komikus yang terkenal dengan Astro Boy), yakni gaya gambar yang sangat kartun nan imut, namun karya Hideo dibuat bersifat seksual.


Demam lolicon (lolicon boom) terjadi pada awal 1980-an. Pasar telah cukup matang untuk mengonsumsi konten seperti itu. Majalah khusus lolicon muncul seperti Lemon People pada 1981 dan Manga Burikko pada 1982. Perusahaan Enix merilis gim komputer untuk dewasa berjudul 'Lolita Syndrome' pada 1983. Setahun setelahnya, muncul animasi erotis pertama di Jepang berjudul 'Lolita Anime'.

Lolicon: Saat Pria Berfantasi tentang Gadis di Bawah UmurGim komputer Lolita Syndrom (Copyright 1983 by Katumi Mochizuki/Enix)


Bagaimana bisa pria dewasa 'berselera' dengan anak gadis?

"Saya pikir banyak pria di Jepang yang mengidap kompleks lolita (lolita complex)," kata pria produser film mesum Chaku Ero yang tak mau disebutkan namanya, mengutarakan opininya kepada BBC.

Entah pedofilia atau bukan, namun begitulah kata-kata dari seorang produser film mesum yang mengaku meraup keuntungan lebih banyak dari pemeran gadis di bawah umur. Dari anak gadis 6 tahun, dia bisa menghasilkan 4 juta Yen (sekitar Rp 520 juta untuk saat ini) sampai 5 juta Yen (sekitar Rp 650 juta). Namun bila pemerannya adalah gadis seumuran SMA, dia menghasilkan keuntungan yang lebih sedikit yakni sekitar 1 juta Yen (sekitar Rp 130 juta).


Kecenderungan mencintai karakter fiksi berkembang di Jepang pasca-Perang Dunia II. Aktivitas konsumsi memainkan peranan penting dalam hubungan asmara. Perempuan dewasa tertarik dengan pria yang punya sumber ekonomi. Logika pasar masuk ke relung pertimbangan asmara. Galbraith menuliskan, terjadi kesenjangan cinta yang berhubungan dengan kesenjangan pendapatan.

Pria-pria banyak yang mencurahkan perhatiannya pada hobi manga dan anime, mereka biasa disebut sebagai 'otaku'. Dalam kesenjangan pendapatan, pria otaku semakin mengembangkan cintanya terhadap gadis fantasi dari manga dan anime.

"Karakter seperti itu menyediakan 'cinta yang murni' tanpa masalah sosioekonomi," tulis Galbraith mmengutip Toru Honda. Berbarengan dengan kondisi itu, konten yang disajikan budaya populer adalah manga bernuansa lolicon.


Simak Juga 'Netizen Kecam Grup Paedofil Loly Candy's':

[Gambas:Video 20detik]


Lolicon: Saat Pria Berfantasi tentang Gadis di Bawah Umur

(dnu/tor)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed