DetikNews
Sabtu 17 November 2018, 10:55 WIB

Kata Para WNI yang Pernah di Jepang soal Pornografi Negeri Sakura

Adhi Indra Prasetya - detikNews
Kata Para WNI yang Pernah di Jepang soal Pornografi Negeri Sakura Foto ilustrasi: Maria Ozawa (Dok. Instagram maria.ozawa)
Jakarta - Pornografi Jepang merupakan salah satu industri yang populer, tak hanya di negeri mereka sendiri, namun juga di belahan dunia yang lain, termasuk Indonesia. Beberapa artis yang terjun di industri ini pun cukup terkenal di luar Jepang meski tak lagi aktif, seperti halnya Maria Ozawa yang beberapa waktu lalu yang sempat berurusan dengan petugas imigrasi di Bali.

Kepada detikcom, Sabtu (17/11/2018), sejumlah warga negara Indonesia (WNI) yang pernah tinggal di Jepang memberikan kesaksian dan pendapat pribadinya soal pornografi di Jepang.

Sebagian dari mereka tidak memberikan nama terang karena menilai opini soal pornografi terlalu tabu.

Wajarkah Mengonsumsi Pornografi di Jepang?

Tini (27), demikian dia berkenan disebut, menceritakan pengalamannya saat sedang berada di sebuah kereta. Wanita yang tinggal di Kawasaki dan bekerja di Tokyo ini pernah melihat seorang kakek tua membaca koran dewasa berisikan foto wanita tanpa busana dengan tenang dan santai.

"Padahal orang di sebelah kiri, kanan, dan di depan dia bisa melihat isi koran yang dia baca," ujar wanita yang bekerja sebagai pengajar Bahasa Indonesia paruh waktu dan sudah tinggal di Jepang selama tiga tahun terakhir.

Namun orang di sekitarnya pun memang tidak mempedulikan, karena menurut Tini hal itu sudah menjadi privasi dan urusan pribadi. Lukman secara terpisah juga menyetujui hal yang diungkapkan Tini.

"Suatu waktu, gue sedang di mobil dan gue melihat orang di mobil sebelah gue sedang asyik nonton video porno. Mereka pun santai saja, tidak merasa harus menutupi. Kaca mobil mereka mereka juga bukan yang gelap (sehingga tidak bisa kelihatan)," ujarnya.

Majalah-majalah dewasa pun dijual di konbini (semacam minimarket) dengan bebas, meski pembelinya pun harus cukup umur. Tini menyaksikan, majalah, video, hingga komik dewasa ini ditaruh tempat khusus sendiri yang terpisah dan diberi tirai. Orang-orang tahu ke mana mereka harus mencari jika ingin mengakses konten pornografi.

Saat Ada Teman yang Jadi Bintang Porno

Marwan (28), seorang programmer asal Indonesia yang kini bekerja di Osaka, memberikan sedikit kisahnya. Salah satu temannya di Jepang mempunyai kawan semasa SMP yang kini menjadi bintang film dewasa.

"Awalnya dia kaget, cuma kalau orang tersebut nggak merasa bermasalah ya kenapa nggak," ujarnya.

Orang Jepang dilihatnya tak terlalu memandang negatif terhadap pekerjaan bintang porno. Temannya, warga Jepang, yang punya rekan bintang porno juga bersikap demikian. Meski begitu, bukan berarti tidak ada pandangan negatif. Bisa jadi keluarga atau orang terdekat bintang film dewasa tersebut tidak merestui.

Kata Para WNI yang Pernah di Jepang soal Pornografi Negeri SakuraFoto ilustrasi: Festival budaya Jepang (Pradita Utama/detikcom)

"Karena industri ini legal, jadi ini pekerjaan biasa saja (seperti profesi lain). Juga tidak ada stigma sosial. Bahkan ada yang merasa bangga (menjadi bintang film dewasa) karena bisa membantu kehidupan seksual orang lain," ujar WNI bernama Lukman Adi Prananto (30). Lukman pernah bekerja di sebuah perusahaan swasta ternama di Jepang selama 4 tahun.

Pornografi dan Angka Kelahiran

Lukman beropini soal angka kelahiran penduduk di Jepang yang rendah dan hubungannya dengan pornografi. Pria yang kini bekerja di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, ini mengatakan salah satu alasan orang-orang Jepang tidak mau menikah dan memiliki anak adalah mahalnya biaya untuk berkeluarga dan membesarkan anak.

"Mereka jadi lebih berhati-hati dalam bertindak," kata Lukman.

Hitung-hitungan yang mahal inilah yang membuat banyak masyarakat Jepang takut untuk memiliki anak. Ini adalah salah satu faktor yang membuat mereka menunda untuk menikah, apalagi biaya membesarkan anak di Jepang, menurut Lukman, juga tergolong tinggi. Ia menyebut biaya untuk mengurus satu orang anak saja, mulai dari lahir hingga lulus kuliah, jika dirupiahkan, bisa mencapai Rp 5 miliar.

Angka yang ia sebut sesuai dengan yang ditulis oleh The Japan Times, yang menyebut biaya berkisar antara 28,59-63,01 juta Yen atau sekitar Rp 3,6-8,2 miliar (kurs saat ini). Selain itu, Lukman menambahkan, budaya orang-orang muda Jepang yang merupakan pekerja keras dan sering bekerja hingga lembur membuat mereka tidak punya waktu untuk sekadar berkencan.

Akibatnya, mereka menjadi tidak punya pasangan. Dalam kondisi ini, pornografi pun menjadi salah satu jalan solusi untuk memenuhi kebutuhan biologis mereka sendiri tanpa harus berhubungan seksual yang bisa menyebabkan kehamilan.

Perempuan yang hanya berkenan namanya disebut sebagai Kania (28) mengutarakan, maraknya pornografi yang ada justru menjadi alasan bertambahnya orang Jepang yang tidak menikah.

"Teman saya, seorang wanita, yang merupakan mualaf di Jepang mengatakan hal ini dikarenakan ekspektasi terhadap wanita dan perbuatan seksual jadi tinggi sehingga tidak puas dengan kenyataan yang ada," ujar wanita Indonesia yang kini bekerja di perusahaan teknologi informasi di Tokyo tersebut.



Simak video 'Contek Kebiasaan Bersih-bersih ala Orang Jepang':

[Gambas:Video 20detik]

Kata Para WNI yang Pernah di Jepang soal Pornografi Negeri Sakura

(dnu/tor)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed