DetikNews
Sabtu 17 November 2018, 06:27 WIB

Prajurit-prajurit Jepang yang Berperang untuk NKRI

sapto - detikNews
Prajurit-prajurit Jepang yang Berperang untuk NKRI Ilustrasi (Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta - Di Arjosari, desa di arah tenggara Kota Malang, Jawa Timur, Ichiki Tatsuo menjemput ajal dengan menyambut hujan peluru dari tentara Belanda. Menurut seorang teman yang menyaksikan pertempuran sengit di Arjosari pada 9 Januari 1949 selepas subuh itu, Ichiki, atau lebih dikenal sebagai Abdul Rachman di antara teman-temannya, sengaja berlari menyambut tembakan prajurit Belanda untuk membangkitkan semangat kawan-kawan seperjuangan.

Meski saat itu kalah jumlah prajurit dan senjata, Ichiki, Umar Tatsuji Maekawa, Sukardi Nagamoto Sugiyama, dan Abdul Majid Goro Yamano melawan tentara Belanda dengan gigih tanpa kenal takut. Tapi lantaran amunisi makin menipis, mereka terpaksa memutuskan mundur. Ichiki Tatsuo alias Abdul Rachman mati pada usia 42 tahun dan dikuburkan di tengah hutan di lereng Gunung Semeru itu.

Dia mati bukan untuk membela Kaisar Jepang atau bendera Hinomaru, tapi dia mati untuk Merah-Putih. Saat menemui ajal, Ichiki merupakan Wakil Komandan Pasukan Gerilya Istimewa setelah Perang Dunia II usai. Anggota pasukan ini merupakan prajurit-prajurit Jepang yang membelot ke pihak Indonesia. Komandan Pasukan Gerilya Istimewa adalah 'Arif' Tomegoro Yoshizumi, mantan intel di kesatuan tentara Jepang.

"Ichiki lahir di Jepang dan seorang nasionalis. Dia melepas kewarganegaraannya sebagai protes atas sikap pemerintah Jepang yang mengingkari janjinya membantu persiapan kemerdekaan Indonesia," Kenichi Goto menulis di jurnal Indonesia pada Oktober 1976. Ichiki lahir di Taraki, kota kecil di Prefektur Kumamoto, bagian selatan Pulau Kyushu, pada 1906. Putra ketiga dari enam bersaudara ini berasal dari keluarga samurai miskin. Dulu, keluarganya bekerja untuk klan Sagari, yang punya pengaruh besar di daerah itu hingga abad ke-19.

Ichiki memang lahir dan tumbuh besar di Jepang, tapi dia sudah lama kenal dan jatuh cinta dengan Indonesia. Jauh sebelum Perang Dunia II meletus dan dia dikirim ke Indonesia sebagai prajurit pasukan Kekaisaran Jepang, dia sudah pernah lama tinggal di Indonesia. Bahkan dia pernah menikah dengan seorang gadis dari Sumedang, Jawa Barat. Tak heran jika Ichiki fasih bercakap dalam bahasa Indonesia.

Lahir di keluarga samurai miskin, Ichiki punya mimpi besar mengangkat kembali nama keluarganya. Pada 1928, saat usianya baru 22 tahun, Ichiki memutuskan merantau jauh ke selatan untuk mengejar mimpinya. Ada seorang teman sekampungnya yang sudah lebih dulu merantau ke Palembang di Pulau Sumatera, saat itu bagian dari Hindia Belanda. Di Palembang, temannya, Miyahata Seiichi, punya studio foto lumayan besar. Di studio Miyahata, Ichiki menjadi fotografernya.

Ichiki bukan satu-satunya prajurit Jepang yang membelot ke Indonesia. Bersama Ichiki, ada ratusan prajurit Jepang yang berpikiran sama. Mereka memilih tetap tinggal di Indonesia, tanah air mereka yang baru. Di antara prajurit Jepang yang membelot ke Indonesia adalah teman lama Ichiki, Arif Yoshizumi Tomegoro dan Rahmat Shigeru Ono. Nama Arif diberikan oleh pemimpin pergerakan Tan Malaka kepada Yoshizumi.

Bagaimana kisah mereka selengkapnya, baca di detikX, Tinggalkan Hinomaru, Rengkuh Merah Putih
(sap/sap)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed