AS dan Kuba Saling Tuding Akibat Tenggelamnya Kapal

AS dan Kuba Saling Tuding Akibat Tenggelamnya Kapal

- detikNews
Minggu, 28 Agu 2005 06:15 WIB
Jakarta - Saling tuding. Itulah yang terjadi ketika 31 orang warga Kuba tenggelam saat berusaha meninggalkan Kuba dengan menggunakan perahu. Pemerintah Kuba dan Amerika Serikat saling menyalahkan satu sama lain atas kejadian tersebut.Seperti dilansir BBC, Minggu (28/8/2005), hanya tiga orang yang selamat setelah perahu dilaporkan tenggelam pada tanggal 16 Agustus lalu, antara Kuba dan Florida. Tetapi misteri masih menyelimuti kapan tepatnya peristiwa kecelakan terjadi.Da orang wanita dan seorang laki-laki ditemukan terapung di tengah laut sekitar 50 km sebelah pantai utara Kuba oleh sebuah kapal dagang minggu lalu. Mereka rupanya telah berada di dalam air selama lima hari setelah perahu mereka terbalik.Mereka dibawa kembali ke Kuba dan menderita hebat akibat terbakar sinar matahari, mereka juga menderita dehidrasi. Sedangkan 31 orang penumpang yang lainnya dalam perahu yang sama diduga telah tenggelam.Pemerintah Kuba mengatakan Amerika Serikat bertanggungjawab atas peristiwa ini. Dalam siaran televisi Presiden Kuba Fidel Castro menyalahkan kebijakan pihak imigrasi AS yang akan memberikan jaminan perawatan bagi warga Kuba yang sampai ke AS.Castro menerangkan hal tersebut adalah daya tarik bagi warga Kuba untuk mempertaruhkan nyawanya dalam perjalanan yang berbahaya. Kuba juga menghimbau kepada pihak berwenang di Amerika untuk melakukan langkah-langkah guna menghentikan aksi para penyelundup manusia yang meminta bayaran uang sekitar US$ 8.000 per kepala untuk melintasi Kuba menuju Florida dengan perahu cepat. Tetapi pihak Amerika Serikat menyangkalnya, AS malah balik menuding tuduhan Kuba itu justru untuk melindungi diri mereka dari kesalahan atas tragedi tersebut.Pernyataan keras dikeluarkan oleh pemerintah AS bidang urusan luar negeri di Havana yang mengatakan orang-orang yang meninggal itu sedang berusaha untuk menghindar dari tekanan politik juga penderitaan akibat pemiskinan oleh pemerintah. (ddn/)


Berita Terkait