Dunia Peringati Hari Toleransi Internasional, Begini Sejarahnya

Andhika Prasetia - detikNews
Jumat, 16 Nov 2018 10:51 WIB
Negara-negara anggota PBB (Foto: AFP)
Jakarta - Setiap tanggal 16 November diperingati sebagai Hari Toleransi Internasional. Hari Toleransi Internasional sudah diperingati sejak tahun 1996 atau sudah berjalan selama 22 tahun. Bagaimana awal mula tercetusnya Hari Toleransi Internasional?

Dikutip dari situs Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB atau UNESCO, Jumat (16/11/2018), cikal bakal lahirnya Hari Toleransi Internasional yakni pada saat HUT ke-50 PBB pada 16 November 1995. Negara-negara anggota UNESCO mengadopsi Deklarasi Prinsip-prinsip tentang Toleransi bahwa toleransi merupakan cara untuk menghindari ketidakpedulian.


Latar belakang ini didasari karena banyaknya kasus diskriminasi, kekerasan, hingga ketidakadilan di belahan dunia. Lantas, deklarasi ini dibuat sebagai wujud penghormatan terhadap bentuk ekspresi serta beragam budaya yang ada.

"Toleransi adalah rasa hormat, penerimaan, dan penghargaan terhadap keanekaragaman budaya dunia yang beragam, bentuk ekspresi dan cara kita menjadi manusia," demikian pernyataan dari deklarasi 1995 tentang toleransi.


Barulah pada tahun 1996, Majelis Umum PBB mengundang anggota PBB untuk menetapkan Hari Toleransi Internasional tanggal 16 November.

Lantas, bagaimana rasa toleransi ini bisa dipupuk? Merujuk dari situs United Nations Association-UK, ada tiga cara yang bisa dilakukan, yaitu:

1. Pendidikan

Ketidaktahuan tentang perbedaan budaya, agama dan etnis yang ada di sekitar dapat menyebabkan ketidakamanan. Dengan pendidikan, diharapkan adanya pemahaman yang lebih baik tentang tradisi dan keyakinan yang berbeda dan penerimaan yang lebih besar dari mereka.

2. Regulasi dan Penegakkan Hukum

Perlu adanya UU yang menindak tegas tindakan-tindakan intoleransi seperti ujaran kebencian, diskriminasi, SARA. Serta adanya penegakkan hukum dan peradilan yang menjamin hak-hak para korban intoleransi.

3. Hentikan Stereotip Negatif

Orang yang memiliki stereotip negatif biasanya memiliki prasangka buruk terhadap seseorang atau kelompok yang mendapat 'label' negatif tersebut. Jadi, orang atau kelompok yang memiliki stereotip negatif didorong tidak menghakimi orang lain dengan cara generalisasi.


Apa yang sudah dilakukan PBB?

1. PBB menunjuk ahli independen tentang isu-isu seperti kebebasan beragama atau berkeyakinan, rasisme, diskriminasi rasial, xenofobia, dan intoleransi terkait, dan hak atas kebebasan berpendapat dan berekspresi, yang memberikan analisis independen mereka pada beberapa isu terkait toleransi.

Ruang sidang umum PBB.Ruang sidang umum PBB. Foto: Presiden AS Barack Obama berpidato di Sidang Umum PBB (Bagus Prihantoro/detikcom)

2. PBB bekerja sama dengan pemerintah, organisasi internasional dan masyarakat sipil untuk mendukung inisiatif nasional dan regional yang mempromosikan keragaman dan kerja sama.

3. PBB mempromosikan toleransi dalam berbagai cara. Setiap dua tahun, digelar menghadiahkan Penghargaan UNESCO-Madanjeet Singh untuk Promosi Toleransi dan Non-Kekerasan yang menghargai kegiatan signifikan dalam bidang ilmiah, artistik, budaya atau komunikasi yang ditujukan untuk mempromosikan semangat toleransi dan non-kekerasan. (dkp/fjp)