DetikNews
Jumat 16 November 2018, 09:20 WIB

Jejak Getir Pendidikan di Makassar Era Kolonial

Muhammad Taufiqqurahman - detikNews
Jejak Getir Pendidikan di Makassar Era Kolonial Foto: Gedung MULO Makassar (topik/detikcom)
Makassar - Gedung Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) menjadi saksi sejarah tentang bumiputera di Makassar dapat mengeyam pendidikan formal. Hanya bangsawan yang bisa mengenyamnya. Namun jauh sebelum itu, telah berdiri sekolah guru yang menjadi cikal perkembangan pendidikan di Sulsel.

Ketua Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia Komda Sulampapua, Yadi Mulyadi mengatakan sekolah pertama kali didirikan di Makassar oleh pendeta bernama Benjamin Fredrick Matthes pada tahun 1876. Sekolah itu dinamakan Kweekschool atau sekolah guru.

Berdasarkan penulurusan sejarah dari Balai Pelestarian Cagar Budaya Makassar, pada tahun 1880, pemerintah kolonial mengambil alih sekolah itu dan mengangkat BF Matthes sebagai direkturnya.

"Pengambilalihan Kweekschool oleh pemerintah kolonial sekaligus menandai munculnya pendidikan formal di Makassar," kata Yadi yang menjadi bagian dari tim Cagar Budaya Makassar ini di Makassar, Sulsel, Kamis (15/11/2018).

Pengambilalihan Kweekschool tidak dengan sendirinya menjadi angin segar bagi pendidikan di Makassar. Jika dibandingkan dengan daerah lain seperti Manado, maka perkembangan pendidikan kala itu di Makassar relatif lebih lambat.

Keterlambatan ini karena perhatian pemerintah Hindia Belanda terkonsentrasi pada usaha penaklukan kerajaan-kerajaan di Sulsel yang baru diselesaikan pada tahun 1905. Tidak hanya itu, kelompok bangsawan tinggi kala itu tidak menggunakan kesempatan belajar di sekolah formal pada masa-masa sebelumnya.

"Mereka tidak tertarik pada lembaga-lembaga pendidikan yang didirikan oleh pemerintah kolonial Belanda, karena beranggapan dengan memasuki lembaga pendidikan kolonial berarti mereka akan di-Belanda-kan dan dijadikan budak untuk mengabdi pada kepentingan kolonial," ungkapnya.

Namun, pada sekitar tahun 1906 setelah Sulsel hampir ditaklukkan secara keseluruhan, pemerintah kolonial mendirikan sekolah rendah seperti Sekolah Rakyat (Volkschool) atau VS dan Sekolah Pribumi (Inlandsche School) atau IS bagi anak-anak keluarga terkemuka pun didirikan.

Setelah VS dan IS berkembang, maka pada tahun 1920 dibuka sekolah lanjutan dari VS yaitu VVS (Vervolgschool). Di tahun yang sama, pemerintah Hindia Belanda membuka Holland Inlandsche School (HIS) di Makassar.

"Bahasa Belanda digunakan sebagai bahasa pengantar. Murid-murid yang diterima terbatas pada anak keturunan bangsawan atau mereka yang sangat berjasa pada pemerintah kolonial Belanda," ujarnya.

Lulusan HIS mendapat penghargaan istimewa dan dengan cepat diterima menjadi pegawai pemerintah kolonial. Prioritas tersebut bukan hanya karena penguasaan bahasa Belanda yang baik melainkan pula karena memiliki loyalitas yang tinggi.
(fiq/asp)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed