DetikNews
Jumat 16 November 2018, 07:59 WIB

Dibangun 1920, Gedung MULO Makassar Saksi Diskriminasi Penjajah

Muhammad Taufiqqurahman - detikNews
Dibangun 1920, Gedung MULO Makassar Saksi Diskriminasi Penjajah Foto: Gedung MULO Makassar (topik/detikcom)
Makassar - Sebuah gedung berarsitek Eropa klasik berdiri di pusat Kota Makassar. Gedung Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) dulunya sebuah sekolah bagi anak-anak Pribumi yang orangtuanya bekerja untuk pemerintahan kolonial.

Lokasinya berada di Jalan Jenderal Sudirman, Makassar, dan berseberangan jalan dengan rumah jabatan Gubernur Sulsel, atau berada di sisi Jalan Sungai Saddang dan Jalan Batu Putih. Bangunan ini dibuka pertama kali 1920.


Ketua Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia Komda Sulampapua, Yadi Mulyadi menyebut bangunan itu adalah salah satu pusat pendidikan yang ada di Susel. Keberadaan gedung dengan dinding bercat putih ini telah masuk dalam situs cagar budaya Sulsel dan dilindungi oleh UU dengan nomor register 327 oleh Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala Provinsi Sulawesi Selatan dan Tenggara.

"Bangunan ini memang dipersiapkan untuk kebutuhan pegawai Pangreh Praja pada waktu itu," kata Yadi di Makassar, Sulsel, Kamis (15/11/2018).

Alumni lembaga ini pendidikan menengah ini tidak dipersiapkan untuk menuju pendidikan tinggi, melainkan hanya sampai pada sekolah kejuruan. Lulusan yang bisa masuk Sekolah MULO adalah lulusan HIS dan VVS dengan persyaratan tambahan.

"Sekolah MULO menerima siswa dari sekolah rendah Kolonial dan juga sekolah rendah Bumiputera. Sekolah MULO merupakan satu-satunya sekolah tertinggi bagi Bumiputera yang ada di Makassar," kata dia.

Salah satu tokoh pejuang Makassar yang sempat mengeyam pendidikan di MULO adalah Andi Mattalatta. Nantinya, anak-anak yang bersekolah di MULO pun akan mengeyam pendidikan selama 3 tahun lamanya.


MULO tidak berdiri begitu saja, berdasarkan data Balai Pelestarian Cagar Budaya Makassar. Pada tanggal tanggal 17 Oktober 1910 dibuka OSVIA (Opleiding School Voor Inlandsche Ambtenaren) dengan lama pendidikan 6 tahun berdasarkan Surat Keputusan Pemerintah Belanda tanggal 10 Agustus 1910 No. 5.

Berbeda dengan OSVIA di daerah lain seperti di Bandung, Magelang, dan Probolinggo yang berdiri sendiri, OSVIA Makassar dibuka untuk memenuhi desakan pendidikan anak bangsawan dan melatih calon pegawai dan guru. Lulusan yang dapat diterima di OSVIA adalah sekolah rendah berbahasa Belanda.

Siswa yang diterima tidak hanya dari Sulawesi Selatan tetapi juga dari Kalimantan Timur, Timor, Manado, dan Ternate.

Sejak berdiri dari tahun 1910 hingga tahun 1931, OSVIA Makassar memiliki peminat yang cukup banyak. Namun demikian, sekolah yang semula berdiri atas hasil reorganisasi dari Kweekschool, pada akhir tahun 1934 digabung dengan MULO, dengan menambahkan satu kelas lanjutan selama satu tahun.

Untuk materi pelajaran OSVIA, dua tahun pertama diberikan mata pelajaran umum seperti Bahasa Inggris, Belanda, Jerman, Sosiologi, Sejarah, dan lain-lain. Pada tahun ketiga, kelas dibagi dua, satu bagian tetap sebagai siswa OSVIA dan bagian lain menjadi HIK (Holland Inlandsche Kweekschool).

"Sekolah ini betul-betul mempersiapkan pegawai Belanda dengan gaya hidup ke-Belanda-Belandaan. Kebanyakan dari mereka terdiri dari anak bangsawan terkemuka dan kaya. Lulusan HIK dipersiapkan menjadi guru pada HIS," kata staf pengajar di Departemen Arkelogi FIB Unhas ini.

"Lulusan yang bisa masuk Sekolah MULO adalah lulusan HIS dan VVS dengan persyaratan tambahan. Sekolah MULO menerima siswa dari sekolah rendah Kolonial dan juga sekolah rendah Bumiputera," sambung Yadi.
(fiq/asp)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed