DetikNews
Kamis 15 November 2018, 17:54 WIB

Alan Serahkan Boy ke Petugas karena Tak Sanggup Kasih Makan

Farhan - detikNews
Alan Serahkan Boy ke Petugas karena Tak Sanggup Kasih Makan Ilustrasi (dok.detikcom)
Bogor - Alan Iqbal Maulana (19), warga Gunungputri, Bogor secara suka rela menyerahkan burung elang hitam peliharaan kesayangannya ke pihak Badan Konservasi dan Sumber Daya Alam (BKSDA). Alasannya, karena Alan mengaku sudah tidak sanggup membiayai hidup elang hitam yang diberinya nama 'Boy'.

Setiap hari, Alan mengaku harus membeli tiga ekor anak ayam seharga Rp 21 ribu untuk makan Boy.

"Jujur saja, saya kewalahan beli makan buat si Boy. Biaya makannya mahal," kata Alan kepada wartawan, Kamis (15/11/2018) sore.

Menurutnya, Boy pertama kali ditemukan sekitar tujuh bulan lalu di hutan Kumusuk, Boyolali, Jawa Tengah. Saat itu, burung dengan nama latin Spizaetus Cirrhatus itu masih bayi. Sejak itu, Alan membawa Boy ke rumahnya di Gunungputri, Kabupaten Bogor dan bernuat memeliharanya.

"Awalnya saya kira burung gagak hitam, karena semua badannya hitam, cuma kakinya yang kuning. Nah pas usia si Boy 3 bulan, saya baru sadar kalau ternyata itu burung elang, bukan gagak," cerita Alan.

Sejak usia sekitar 4-5 bulan, pakan si Boy pun mulai berubah. Boy harus diberi pakan 3 ekor anak ayam agar tetap sehat.

Agar Boy tidak kelaparan, Alan harus merogoh kocek sebesar Rp 21 ribu setiap hari. Hal itulah yang kemudian membuat Alan merasa kewalahan dan menyerahkan Boy ke pihak BKSDA.

"kewalahan saya, uang jajan saya habis cuma buat si Boy. Awalnya sih mau saya lepasin ke hutan, tapi teman di komunitas saranin supaya serahin ke BKSDA," kata Alan.

Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) BKSDA Wilayah 1 Jabar Sudrajat mengatakan burung elang tersebut diserahkan oleh pemilik secara sukarela ke pihak BKSDA. Saat diserahkan pemilik, kondisinya dalam kondisi sehat. Namun, elang yang diperkirakan berumur 7 bulan tersebut sudah dalam kondisi jinak.

"Ini burung sudah jinak, jadi rencananya kami akan rehabilitasi dulu di lembaga konservasi untuk mengembalikan sifat liarnya, kalau sudah pulih, dilepaskan kembali ke habitatnya," kata Sudrajat.
(asp/asp)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed