DetikNews
Kamis 15 November 2018, 17:41 WIB

Megawati Tolak Disebut Kuper Walau Tak Punya HP

Ahmad Bil Wahid - detikNews
Megawati Tolak Disebut Kuper Walau Tak Punya HP Ketum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri (Foto: Agung Pambudhy/detikcom)
Jakarta - Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri mengaku hingga kini tak bergantung pada teknologi khusus gadget. Mega merasa kekuatan otaknya lebih kuat dibandingkan teknologi tersebut.

"Saya pernah bertemu dengan orang-orang yang ikut memproduksi bidang teknologi ini dan melakukan debat kecil. Karena dia begitu bangga dengan keilmuan dia. Dia bisa membuat robot dan lain-lain," kata Megawati mengawali ceritanya saat memberi sambutan di sekolah partai untuk caleg PDIP di Kantor DPP PDIP, Jl Pangeran Diponegoro, Jakarta Pusat, Kamis (15/11/2018).
Mega lalu mendebat orang tersebut. Dia memberi pertanyaan yang membuat orang itu terdiam.

"Tapi saya bilang tidak, saya tidak akan pernah percaya bahwa nanti seluruhnya itu, dalam situasional krisis itu tidak lagi dapat dijalankan oleh baterai listrik dan lain-lain, apa yang kamu akan buat? Orang itu terdiam. (Saya jawab) kalau saya masih punya otak saya. Tidak akan ada yang memberhentikan otak saya, kecuali yang di atas," ujarnya.

Mega lalu mengungkit masa lalu sebagai presiden namun tak punya handphone. Mega menceritakan, cucunya bahkan pernah menyebut dirinya kurang pergaulan (kuper).
"Makanya kalau ditanya, sebagai ketum, pernah presiden dan wapres, saya nggak punya HP loh. Cucu saya punya panggilan manis, saya tidak mau bilang di sini, ya katakan saja nenek, dibilang nenek itu kuper. Tidak. Saya paling pintar. Paling pandai," kata dia.

"Kalau kamu tergantung pada alatmu itu. Kalau saya tergantung pada otak saya. Orang tidak mungkin bisa memindai saya. Tapi mata saya dengan merekam lalu melihat orang, karena saya, mohon maaf, mungkin sudah jutaan orang yang saya temui," lanjut Mega.
Mega lalu mengingat kadernya agar tak sombong meski menguasai teknologi. Menurutnya saat ini banyak kebencian di media soal disebabkan banyak orang yang tak bisa mengontrol otak sendiri.

"Nah jadi jangan sekali-kali kalau sudah pintar cyber lalu mulai sombong dan pikiran baik dikalahkan dengan pikiran jelek. Kalau kita sekarang melihat permainan di medsos, whatever namanya, itu kan penuh dengan kebencian. Itu yang selalu saya katakan kepada teman-teman saya, ketika orang tidak bisa mengontrol otak mereka sendiri sehingga nurani kebaikannya itu hilang dan menjadi kegelapan. Yang ada adalah bagaimana membangun kebencian untuk orang itu bereaksi," tuturnya.
(abw/jbr)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed