DetikNews
Kamis 15 November 2018, 16:28 WIB

Melihat Sekolah Mohammad Ceng Ho di Tengah Lokasi Bencana Palu

Jafar Bua - detikNews
Melihat Sekolah Mohammad Ceng Ho di Tengah Lokasi Bencana Palu
Palu - WN China Li Feng Pippa (40) mengunjungi Sirenja, Sulteng untuk keempat kalinya pada 19 Oktober 2008. Tenda-tenda itu menjadi tempat sekolah dengan nama Muhammad Cheng Ho.

Tenda berukuran 12 x 10 kaki (3,7 x 3,2 m), memiliki satu pintu depan, lima jendela, dan memiliki tirai di pintu masuk utama dan jendela untuk mencegah nyamuk terbang ke tenda. Saat hujan turun, ada lapisan tirai tahan hujan yang bisa ditaruh, mirip seperti rumah baru.

Menurut dia, warna biru dan merah adalah dua warna yang paling disukai orang China. Ini juga dua warna yang biasa digunakan di porselen Cina yang terkenal. Ini sering disebut "China Blue" dan "China Red".

Biru adalah warna kedamaian. Ini adalah warna organisasi PBB yang paling banyak digunakan. Ia melukiskan: "Saya melihat cinta dan kedamaian di Tenda Biru itu."

Dari tenda inilah, Pippa kemudian mendapat ilham. Berbekal referensi sejarah yang menautkan rakyat China dan Indonesia, Ia pun menginisiasi Sekolah Mohammad Ceng Ho.

Pada 23 Oktober, Pippa, kembali ke Palu untuk mempersiapkan sekolah tenda itu. Bekerja sama dengan yayasan kemanusiaan yang ada, ia pun mulai bergerak.

Sekolah Tenda itu didirikan di lokasi Sekolah Menengah Atas Negeri 2 Balaesang, di mana tak ada bangunan yang layak untuk dijadikan tempat belajar.

"Saya setuju dengan nama Sekolah Mohammad Cheng Ho. Cheng Ho sangat terkenal di masyarakat Muslim Indonesia," kata Mohammad Ali, Ketua Nahdlatul Ulama Peduli, salah satu kelompok yang bekerja untuk bantuan kemanusiaan di Palu, Sulawesi Tengah.

"Nama Sekolah Muhammad Cheng Ho sangat bagus," kata Ketua International Cheng Ho Society, Singapura, Dr Tan Ta Sen, membalas Pippa melalui email.

Tenda itu didirikan dengan bantuan pengusaha China di Jakarta, Qiu Yu. Dibantu Qing Cai pula mereka mengidentitasi diri dengan nama Love from Tionghoa Volunteer. Liang Ruifang, pengusaha China di Jakarta juga membantu penuh semangat.

"Seorang Dato dari Malaysia menyumbang kepada kami Rp 10 Juta. Ada Rp 50 juta," lapor Liang pada Pippa.

Liang Ruifang teman Pippa itu adalah penjual komputer di Jakarta. Dia menyampinhkan pekerjaannya yang sibuk dan membantu mengumpulkan donasi dari orang-orang Tionghoa.

Sekolah Tenda kini sudah berdiri. Pelajar-pelajar setempat kembali dapat belajar nyaman. Sekolah Mohammad Ceng Ho menjadi harapan di tengah bencana.

Untuk diketahui, Cheng Ho adalah orang kepercayaan Kaisar Yongle dari Tiongkok (berkuasa pada 1403-1424), kaisar ketiga dari Dinasti Ming. Nama aslinya adalah Ma He, juga dikenal dengan sebutan Ma Sanbao. Ia adalah seorang bersuku Hui, suku bangsa yang secara fisik mirip dengan suku Han, namun beragama Islam. Ia adalah salah seorang Laksamana ulung. Ia pernah memimpin ekspedisi hingga ke Kepulauan Nusantara di zaman kejayaan Majapahit dan Sriwijaya.
(asp/asp)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed