DetikNews
Senin 12 November 2018, 13:03 WIB

Pramuwisata Buka-bukaan Bisnis Murah Travel China di Bali

Aditya Mardiastuti - detikNews
Pramuwisata Buka-bukaan Bisnis Murah Travel China di Bali Ilustrasi (dok.detikcom)
Denpasar - Sejumlah warga yang merasa dirugikan akibat penutupan penutupan toko-toko yang bermain soal mafia Tiongkok mengadu ke DPRD Bali. Salah seorang pramuwisata curhat yaitu tanpa kerja sama mereka tidak akan punya pemasukan.

"Saya cuma mau menyampaikan pendapat saya yang saya lihat di lapangan katanya pihak toko nggak ada izin, ternyata pihak toko izin ada cuma nggak memenuhi standar. Jadi menurut pendapat saya dibuatlah izinnya. Pihak toko nggak akan mungkin nggak berani keluar duit buat bikin izin. Kenapa ada subsidi tamu China ke Bali? Destinasi negara banyak yang mana murah, yang mana dia pergi," seorang pramuwisata, Hendy di ruang rapat DPRD Bali, Jl Kusuma Atmaja, Denpasar, Bali, Senin (12/11/2018).

Hendy menambahkan jaringan toko Tiongkok itu tak hanya bekerja di Indonesia tapi juga di negara lainnya. Hendy mengatakan tanpa jaringan tersebut mereka tidak mendapat tamu.

"Jadi pihak toko ini bukan cuma di Indonesia, di seluruh dunia mereka jadi mafia. Kita sebagai masyarakat kalau nggak kerja sama dengan mafia, orangnya sedikit yang dateng. Mafia China, mafia Hongkong, mereka per hari berani keluar berapa ratus miliar, berapa ratus triliun biar tamu China datang ke Bali dan peraturannya cuma di sini cuma satu tapi nggak maksa belanja, cuma pajaknya yang harus dibayar," ujarnya.

Dengan adanya penutupan toko jaringan Tiongkok itu, Hendy dan rekan-rekannya merasa dirugikan. Khususnya para agen travel yang sudah teken kontrak dengan agen travel di China.

"Sekarang kan penutupan toko-toko, sepihak dari toko saya nggak mau bayar subsidi tamu ini. Nggak mau bayar gimana, travel agent udah sign kontrak dampaknya rugi bermiliar-miliar," tuturnya.

"Kita semua yang rugi dari pedagang asongan, restoran, yang kita butuhkan bukan tamu kualitas tapi kuantitas, misal ke pasal satu baju Rp 50 ribu, jual ke orang kaya ke orang miskin juga Rp 50 ribu, nggak mungkin kita jual ke orang kaya kasih Rp 500 ribu, jadi kita perlu kuantitas. Dan karena dari pihak-pihak yang bener mau potong mafia China ini ya udah, potong-potong tamu mereka nggak rugi, yang kena dampaknya kita masyarakat biasa," sambung Hendy.

Tak hanya itu, keluhan senada juga disampaikan pengusaha makanan babi guling, spa maupun pengusaha water sport di Nusa Penida. Mereka mengaku jumlah kunjungan tamu China menurun sejak ditutupnya toko jaringan Tiongkok ini.

"Sebelum penutupan itu, hampir 1.000 orang wisatawan China ke Nusa Penida, kita juga mempekerjakan banyak orang akibat sebagai guide water sport yang kita punya karena grafiknya cukup signifikan. Kami juga memiliki bisnis di luar pasar China, tapi kalau di-compare hampir 1:100 karena yang kami ketahui sekarang bule yang banyak ke Long Island Nusa Penida itu China," ujar I Putu Darmaya.

Putu menambahkan sejak penutupan itu jumlah kunjungan wisatawan dari yang biasanya per hari mencapai seribu orang, kini hanya sekitar ratusan orang. Padahal selama ini pihaknya juga mempekerjakan tenaga lokal yang berpendidikan minim maupun unskill untuk direkrut demi melayani tamu-tamu China yang datang.

"Sejak penutupan bookingan kami menurun dari 1.000 jadi 100 pak. Bahkan kita merekrut tenaga lokal yang unskiled. Kami pekerjakan dengan menguraikan bahkan tamatan mereka SMP kenapa bisa kami pekerjakan? Kebetulan yang kami punya produk rumput laut bekas orang di laut, berbekal mereka bisa menyelam dan berenang saja, tapi dengan penutupan ini kami kaget, bahkan ada komunikasi dengan pengusaha kecilpun infonya tidak ada bookingan untuk Desember-Januari katanya karena pesawat charter tidak ada," keluh Putu.
(ams/asp)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed