DetikNews
Minggu 11 November 2018, 17:13 WIB

Haris Azhar: Buku 'Teror Mata Abdi Astina' Metafora Novel Baswedan

Arief Ikhsanudin - detikNews
Haris Azhar: Buku Teror Mata Abdi Astina Metafora Novel Baswedan Bedah buku 'Teror Mata Abdi Astina' (Foto: Arief Ikhsanudin/detikcom)
Jakarta - Novel 'Teror Mata Abdi Astina' disebut Direktur Eksekutif Lokataru Foundation, Haris Azhar, sebagai penggambaran dari kasus teror penyiraman air keras yang dialami Novel Baswedan. Novel itu ditulis Agus Dwi Prasetyo dan diterbitkan oleh penerbit REQbook.

"Ini metafora baik dalam sejumlah hal, untuk Indonesia ini tepat sekali. Saya dekat dengan advokasi, dengan kasus Novel Baswedan. Ini komunikatif sekali untuk gambarkan kasus Novel Baswedan," ucap Haris saat bedah buku itu di kafe Diskusi Kopi, Jalan Halimun Raya, Jakarta Selatan, Minggu (11/11/2018).

Dia pun menyinggung penanganan perkara Novel yang tak juga tuntas. Dia juga menyoroti dua calon presiden (capres) yaitu Joko Widodo (Jokowi) dan Prabowo Subianto dalam menyikapi hal itu.

"Debat masalah Boyolali, sontoloyo, tapi nggak ada debat masalah Novel. Yang satu bilang ada yang berwenang, yang satu bilang 'kalau saya jadi presiden'," imbuh Haris.

Ketua Wadah Pegawai (WP) KPK Yudi Purnomo Harahap turut hadir dalam acara itu. Dia menyebut sosok Novel bukanlah secara pribadi tapi simbol dari pegawai KPK lainnya.




"Kasus Bang Novel tidak boleh dilupakan. Kasus kemarin adalah menara gading dari kasus pegawai KPK lain yang tidak terungkap," ucap Yudi.

Sementara itu, penulis buku itu, Agus, menyebut buku itu merupakan fiksi yang isinya tentang penegak hukum yang lurus dan jujur di satu negara bernama Astina. Penegak hukum yang bernama Sindu itu dicelakai orang-orang yang tidak menyukainya.

"Saat dia (Sindu) melihat yang nggak sesuai prosedural maka emosi. Emosi itulah jadi bumerang karena banyak yang nggak suka. Sekian banyak intimidasi, teror, puncaknya dia diteror orang tidak dikenal," kata Agus.

Lalu benarkah buku 'Teror Mata Abdi Astina' merupakan kisah tentang Novel Baswedan?

"Ini lebih menggambarkan penyerangan kepada penyidik. Ini fiksi, nggak percaya juga nggak apa-apa. Ini kok kayak di Indonesia? Ya mirip," kata Agus.
(dhn/dhn)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed