Awalnya Anas bercerita soal implementasi dana desa yang disebutnya banyak dipahami secara keliru seperti ketika dikaitkan dengan infrastruktur. Anas mengatakan orang desa beranggapan pembangunan infrastruktur, misalnya jembatan, maka penggunaan dana desa hanya sebatas fisik.
"Nah ketika dana desa dikirim ke desa, perspektif orang desa itu dan kepala desa, hanya menyediakan batu dan semen," ucap Anas saat menjadi pembicara di Diskusi Warung Pintar di Theater Garuda, TMII, Jakarta Timur, Minggu (11/11/2018).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Belajar untuk membayar yang disebut langganan fiber optic sehingga kalau item ini tidak masuk APB-Des (Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa) tidak bisa, dan ternyata bisa. Buktinya pelayanan sekarang bisa sampai malam hari, karena terkoneksi dengan internet," ucap Anas.
Saat pebisnis Jack Ma di Bali, Anas mengaku sempat menyimaknya. Menurut Anas, ada 3 pesan Jack Ma yaitu pendidikan, pemerintah berbasis teknologi, dan kewirausahaan.
"Di Banyuwangi sendiri sebenarnya IT ini menjadi instrumen untuk memberikan pelayanan sekaligus mendorong ekonomi kreatif bagi masyarakat Banyuwangi," kata Anas.
"Maka di Banyuwangi mulai ada komunitas, ada kampung-kampung online bahkan di Banyuwangi jual kambing lewat online, kambing... Saya kira nggak apa-apa dari pada di Jakarta jual orang lewat online," imbuh Anas berkelakar. (knv/dhn)











































