"Hari ini, 10 November, kita memperingatinya sebagai Hari Pahlawan. Perjuangkan para pahlawan ini saat itu tidak muncul begitu saja, namun didorong oleh kecintaan ulama dan santri untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia dari serangan penjajah," kata Rommy dalam keterangan tertulis, Minggu (11/11/2018).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Namun saat ini ada sekelompok orang dengan juga berdalih untuk kepentingan agama malah menyebarkan paham radikal, mereka tidak mau mengakui Pancasila sebagai dasar negara," kata Rommy.
Mengingat paham radikal ini sangat berbahaya bagi keutuhanan dan kedamaian bangsa, Rommy meminta semua pihak, khususnya penyuluh agama untuk berada di garda terdepan memerangi paham ini agar tidak menyebar.
"Paham radikal ini terbukti bisa mengubah negara yang damai dan indah menjadi hancur dan terus bertikai. Hal ini terlihat di Suriah," kata Rommy.
Jika perang atas nama agama sudah terjadi, menurut Rommy, sulit dihentikan. Bahkan bisa terus membesar karena bisa mengundang pihak asing untuk bertarung.
Ia mencontohkan di Suriah, saat ini bukan hanya pemerintah dan pemberontak yang berperang karena masing-masing didukung negara adi kuasa yaitu Amerika Serikat dan Rusia.
"Dua negara berkekuatan besar menjadikan Suriah sebagai ring pertarungan. Yang hancur adalah ringnya, yaitu Suriah," pungkas Rommy. (mul/ega)











































