"Saya sebenarnya menyayangkan komentar-komentar dari para paslon Pilpres. Kata dan kalimat yang disampaikan kepada publik bukanlah hal yang mencerminkan tawaran program, tapi masih seputar kontestasi atau kompetisi antara dua kelompok atau penyampaian 'bad' and 'good' persons dan klaim siapa yang lebih baik," kata Direktur Pusat Kajian Politik (Puskapol) Universitas Indonesia, Aditya Perdana kepada detikcom, Sabtu (10/11/2018) malam.
Menurutnya, publik saat ini menunggu program-program yang ditawarkan para paslon, baik itu oleh Jokowi Widodo (Jokowi)-Ma'ruf Amin ataupun Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. Dia pun menyarankan tim kampanye kedua paslon harus selalu mengingatkan para calon yang mereka dukung untuk menjaga ucapannya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Padahal publik saat ini terus menunggu apa tawaran program yang mencerminkan kelanjutan, perbaikan, atau perubahan yang ingin dilakukan oleh para paslon. Saya merasa bahwa tim media kampanye yang mendampingi para paslon harus selalu mengingatkan para paslon untuk menjaga penyampaian kata dan kalimat," jelasnya.
Aditya menilai pilihan kata yang bijak dapat membuat suasana kampanye lebih sejuk. Dia mengatakan kampanye ditujukan untuk mendidik pemilih agar memilih secara rasional bukan berdasarkan kesukaan atau kebencian.
"Tentu, pilihan-pilihan kata yang bijak dapat membuat suasana kampanye ini dapat lebih sejuk seperti yang dijanjikan oleh dua paslon. Tujuannya jelas untuk mendidik pemilih agar punya kesempatan memilih berdasarkan pilihan yang rasional, bukan semata-mata memilih atas dasar hanya kesukaan ataupun kebencian terhadap paslon saja," ungkapnya.











































