"Bagi PPP, pernyataan KMA (Kiai Ma'ruf Amin) tersebut disampaikan untuk mengingatkan masyarakat pada umumnya tentang adanya kelompok tertentu yang menggunakan cara atau teknik 'The Russian firehose of the falsehood propaganda'," kata Sekjen PPP Arsul Sani kepada detikcom, Sabtu (10/11/2018) malam.
Arsul menyatakan teknik itu digunakan oleh kelompok yang memberi pemahaman kepada masyarakat tentang apapun kebijakan pembangunan pemerintahan Joko Widodo (Jokowi)-Jusuf Kalla adalah jelek. Salah satunya, dia mencontohkan, jika pemerintahan Jokowi-JK membuat kebijakan yang baik maka dianggap pencitraan dan jika kebijakan yang dilakukan tak sesuai janji kampanye sebelumnya maka dianggap kebohongan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Yakni kelompok yang menginisiasi pemahaman kepada masyarakat bahwa apapun pilihan kebijakan atau hasil pembangunan di bawah pemerintahan Jokowi-JK dinegasikan dan dijelekkan. Antara lain dengan cara jika pemerintahan ini mengambil suatu kebijakan yang positif maka dianggap sebagai pencitraan, ketika kebijakan atau hasilnya tidak atau belum sesuai dengan apa yang dijanjikan pada saat proses Pilpres 2014, maka dianggap sedang melakukan kebohongan," jelasnya.
"Mereka karenanya menutup mata dan telinga terhadap capaian, bukan membuka mata dan telinga meski secara kritis dan menawarkan kebijakan atau gagasan alternatif," sambung Arsul.
Wasekjen PPP Achmad Baidowi Foto: dok. pribadi |
"Tentu ucapan KMA itu untuk semua orang yang tak mau tahu terhadap kerja dan jerih payah orang lain. Kadang karena hasrat berkuasa yang tinggi menyebabkan mereka tak mau tahu," ucap Awiek.
Ma'ruf sebelumnya bicara soal pemerintahan Jokowi-Jusuf Kalla yang menurutnya telah menorehkan prestasi. Dia kemudian menggunakan istilah 'buta' dan 'budek' bagi yang tidak bisa melihat prestasi Presiden Jokowi.
"Orang sehat bisa dapat melihat jelas prestasi yang ditorehkan oleh Pak Jokowi, kecuali orang budek saja tidak mau mendengar informasi dan kecuali orang buta saja tidak bisa melihat realitas kenyataan," ujar Ma'ruf Amin dalam sambutan deklarasi Barisan Nusantara, di Jalan Cempaka Putih, Jakarta Pusat, Sabtu (10/11).
Ia lalu menegaskan, ucapannya tidak menuduh seseorang. Dia juga mengatakan ucapannya itu bukan karena marah kepada orang lain.
"Saya tidak marah, dan bukan sedang menuduh siapa-siapa. Saya cuma bilang, kalau ada yang yang menafikan kenyataan, yang tak mendengar dan melihat prestasi, nah sepertinya orang itu yang dalam Alquran disebut แนฃummum, bukmun, 'umyun. Budek, bisu, dan tuli," ujar Ma'ruf kepada Tim Blak blakan detikcom. (haf/haf)











































Wasekjen PPP Achmad Baidowi Foto: dok. pribadi