Megawati Ungkap Peran Orang Jepang di Sejarah Bendera Pusaka

Ahmad Bil Wahid - detikNews
Sabtu, 10 Nov 2018 22:39 WIB
Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri dalam acara penganugerahan lifetime achievement Bhakti Terata Putra Indonesia (Foto: Ahmad Bil Wahid/detikcom)
Jakarta - Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri menghadiri penganugerahan lifetime achievement Bhakti Terata Putra Indonesia. Megawati bercerita tentang sejarah bendera merah putih yang dibuat ibunya, Fatmawati.

Megawati mengawali ceritanya tentang kain merah yang akan dijahit untuk dijadikan bendera merah putih. Dia menyebut ada bantuan dari orang Jepang dalam upaya itu.

"Mencari warna merah susah luar biasa, kalau putih banyak. Lalu ibu saya cerita justru yang memberikan warna merah itu justru seorang Jepang yang simpati ke kita. Dia pengusaha, dia yang mencari dan dapat itu dijahit lalu disimpan. Makanya bendera itu pertama kali dikibarkan di Pegangsaan Timur bukan Istana," kata Mega di Balai Kartini, Jakarta Pusat, Sabtu (10/11/2018).


Dia melanjutkan, merah putih yang sudah dijahit itu sempat dipisahkan kembali. Itu terjadi saat Presiden Sukarno pindah dari Jakarta menuju Yogyakarta karena adanya agresi militer Belanda kedua.

"Ketika kami pindah, ini yang banyak tidak diketahui begitu juga oleh ahli sejarah. Ibu saya cerita sebelum kami pindah ayahnya saya bilang ke Muntahar. Muntahar saya beri tugas, 'kamu bawa bendera untuk dibawa ke Jogyakarta, saya tidak mau tahu bagaimana caranya'. Cerita ibu saya bendera itu dibuka lagi dipisah putih dan merahnya. Saya tidak tanya ke ibu saya. Pendek cerita sampai di Yogyakarta dijahit kembali," ungkapnya.

Dia lalu menceritakan bagaimana Sukarno menjaga bendera itu saat sudah kembali lagi ke Jakarta. Mega menyebut Sukarno menyimpan bendera pusaka di sebuah tempat dan kuncinya dibawa sendiri oleh Sukarno.


"Maksud saya sampai seharusnya kalau menghargai persoalannya pemimpin-pemimpin kita menghargai tidak yang namanya bendera pertama yang disebut bendera pusaka Republik Indonesia itu untuk terus berada keberadaannya secara simbolis sesuai seperti apa adanya," ucapnya.

Menurutnya bendera pusaka itu harusnya diletakkan di tempat khusus. Hal itu karena usia bendera yang sudah puluhan tahun dan rentan rusak.

"Itu direncanakan karena sudah tua karena nanti dianya diproses untuk supaya tidak menjadi gampang rusak lalu dimasukkan ke dalam sebuah tempat yang sudah disediakan itu oleh ayah saya, nanti kalau mungkin ada yang tidak suka dengan Bung Karno lalu mengatakan, ngomong Bung Karno terus, Bung Karno itu proklamator kita," paparnya.


"Jadi itu ditaruh di sana lalu divakum sehingga tidak kena oleh udara, mestinya begitu. Jadi proper (layak), tapi tidak ada," imbuh Ketum PDIP ini.

Dalam acara ini Megawati juga menerima penganugerahan lifetime achievement Bhakti Teratai Putra Indonesia dari Pengurus Pusat Purna Paskibraka Indonesia.

Megawati diketahui pernah menjadi Paskibra saat peringatan detik-detik proklamasi tahun 1964. Megawati saat itu masih duduk di bangku SMA Perguruan Tjikini. (abw/jbr)