detikNews
Sabtu 10 November 2018, 12:24 WIB

Semangat Perjuangan Bung Tomo yang Dikagumi Jokowi dan SBY

Bagus Prihantoro Nugroho - detikNews
Semangat Perjuangan Bung Tomo yang Dikagumi Jokowi dan SBY Ilustrasi Bung Tomo (Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta - Presiden Jokowi mengenakan pakaian ala Bung Tomo saat bersepeda di acara 'Bandung Lautan Sepeda'. Bagi Jokowi, semangat perjuangan di masa Bung Tomo patut diteladani.

"Semangat untuk membangun negara, untuk terus membangun negara, semangat-semangat pahlawan dulu juga sama. Semangat untuk merdeka, setelah itu semangat untuk membangun negara, semangat untuk memajukan negara, semangat untuk membuat Indonesia maju," kata Jokowi seusai gowes di kantor Gubernur Jawa Barat, Gedung Sate, Bandung, Sabtu (10/11/2018).

Baca Juga: Mengenang Bung Tomo

Jokowi memang tak secara khusus menyebut sosok Bung Tomo, meski penampilannya saat ini identik dengan sosok pembakar semangat peristiwa 10 November 1945 itu. Jokowi ingin membangkitkan suasana semangat juang masa itu, sehingga dia berpakaian demikian.

Bukan hanya Jokowi, presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) juga menganggap semangat patriotisme Bung Tomo layak diteladani. Ketum Partai Demokrat itu menyampaikan tentang semangat Bung Tomo di hadapan para kadernya.

"Apa yang terjadi tanggal 10 November tahun 1945 yang lalu, terjadi peristiwa yang amat heroik di Surabaya. Kita juga masih memiliki memori yang kuat, pidato yang membakar nasionalisme dan patriotisme kita dari Bung Tomo," kata SBY di Hotel Sultan, Jalan Gatot Subroto, Jakarta.

Bicara soal sosok Bung Tomo, tentu hal yang paling diingat adalah pose dirinya ketika berpidato dengan lantang. Jarinya menunjuk-nunjuk dan mata yang seolah tak punya rasa takut itu terbukti mampu menangkal penjajah yang ingin masuk kembali ke wilayah Republik Indonesia.

Jika pasukan penjajah waktu itu sudah bersenjata canggih pada masanya, Bung Tomo rupanya memilih corong sebagai senjatanya. Rumah di Jalan Mawar 10, Surabaya, menjadi salah satu saksi bisu aktivitas Bung Tomo membakar semangat massa Surabaya lewat corong radio.



"Bung Tomo itu sosok pemberani. Saat tahu Belanda akan masuk Indonesia, beliau segera datang ke anak-anak dan keluarganya bilang bahwa tindakan Belanda tidak bisa dibiarkan karena kemerdekaan sudah diproklamasikan. Artinya, Indonesia sudah merdeka. Bung Tomo lalu mendatangi orang-orang tua di pemerintahan untuk konsultasi," tutur istri Bung Tomo, Sulistina Sutomo, dalam wawancara dengan detikcom pada Januari 2016.

Sulistina saat itu sudah berumur 90 tahun. Semangat juang mendiang suaminya masih lekat dalam ingatannya, meski Sulistina sudah tak sefit tahun-tahun sebelumnya untuk bercerita.

"Oleh mereka, Bung Tomo ditanya, 'Mau pakai apa kalau melawan? Kita berhadapan dengan musuh pemenang Perang Dunia II. Kita tidak punya apa-apa untuk melawan.' Namun Bung Tomo tidak kecil hati. Meski tidak bersenjata canggih seperti musuhnya, Bung Tomo pantang menyerah. Beliau punya ide untuk mengobarkan semangat para pemuda melalui pidato. Bung Tomo diizinkan gubernur dan dikasih corong, padahal Belanda saat itu sudah masuk dan nembak-nembak," kata Sulistina.

Sutomo atau Bung Tomo lahir pada 1920 di Surabaya. Jurnalistik adalah bidang yang ia geluti sebagai jalan perjuangannya.



"Sampai akhirnya Bung Tomo tetap memilih pidato dari satu tempat ke tempat lain ketimbang menjadi jenderal. Menteri Pertahanan Amir Sjarifuddin pernah menawari Bung Tomo, mau jadi jenderal atau memilih pidato. Bung Tomo memilih menjadi seorang orator dan berpidato di mana-mana," ungkap Sulistina.

Bukan perkara mudah untuk bisa berpidato lantang di masa mempertahankan kemerdekaan. Perlu keberanian tinggi karena jika salah-salah bisa kena masalah.

"Prinsip Bung Tomo, kesewenang-wenangan tidak bisa didiamkan. Dengan cara apa pun, sesuatu yang tidak benar harus dilawan. Meski tidak memiliki senjata, beliau merasa tetap harus melakukan sesuatu. Tidak boleh diam dan membiarkan," tutur Sulistina.

Kini Bung Tomo mendapat pujian oleh 'dua' Presiden Republik Indonesia. Tapi siapa sangka, Bung Tomo pernah menggugat presiden pertama RI Sukarno terkait kebebasan pers dan ditahan oleh presiden ke-2 RI Soeharto karena dianggap melakukan hal subversif.
(bag/fdn)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed