DetikNews
Jumat 09 November 2018, 19:14 WIB

Ketua DPR Sebut Orkestra Bisa Pererat Hubungan RI-Selandia Baru

Tia Reisha - detikNews
Ketua DPR Sebut Orkestra Bisa Pererat Hubungan RI-Selandia Baru Foto: DPR
Jakarta - Ketua DPR RI Bambang Soesatyo atau Bamsoet membuka konser persahabatan Indonesia-Selandia Baru bertajuk The Symphony of Friendship, di The Opera House, Wellington, Selandia Baru. Menurutnya dari konser tersebut, dia berharap diplomasi di bidang kebudayaan akan kian mempererat hubungan antara Indonesia dengan Selandia Baru. Terlebih, baik Indonesia maupun Selandia Baru masih memiliki kesamaan secara etnis.

"Indonesia dan Selandia Baru memiliki kesamaan rumpun bangsa Pasifik, yaitu Melanesia dan Polinesia. Karena dua daerah di Papua, dua daerah di Maluku, dan satu daerah di Nusa Tenggara Timur berada di wilayah Pasifik. Jadi secara geografis selain masuk rumpun Asia, Indonesia juga termasuk dalam rumpun Pasifik," ujar Bamsoet dalam keterangan tertulis, Jumat (9/11/2018).



Politisi Partai Golkar ini pun menjelaskan bahwa konser The Symphony of Friendship merupakan bagian dari rangkaian perayaan 60 tahun hubungan diplomatik Indonesia dengan Selandia Baru. Konser istimewa ini sengaja digelar untuk menunjukan kepada dunia bahwa Indonesia adalah bagian dari rumpun Pasifik yang memiliki kesamaan budaya.

"Kedutaan Besar Republik Indonesia di Wellington telah melakukan berbagai kegiatan untuk merayakan 60 tahun hubungan Indonesia dengan Selandia Baru. Mulai dari seminar, pameran foto, panggung seni dan berbagai kegiatan lainnya yang dibuka saat kunjungan Presiden Jokowi ke Selandia Baru bulan Maret lalu. Konser The Symphony of Friendship merupakan puncak dari kegiatan tersebut. Konser ini sangat dahsyat luar biasa. Kalau saja saya hari ini memiliki kewenangan untuk mendorong Tantowi menjadi Menteri Luar Negeri, pasti sudah saya lakukan," tutur Bamsoet sembari tersenyum.




Wakil Ketua Umum Pemuda Pancasila ini juga menegaskan diplomasi musik dan budaya merupakan sejarah baru yang penting bagi Indonesia dan Selandia Baru. Sebab, melalui diplomasi musik dan budaya, kedua negara bisa memahami karakter dan kebiasaan negara masing-masing.

"Di dalam hubungan antar bangsa dewasa ini, diplomasi budaya telah menjadi salah satu upaya untuk memperkecil perbedaan dan menembus hambatan psikologis yang seringkali muncul dalam hubungan antar negara. Dan melalui kegiatan The Symphony of Friendship ini saya harapkan Indonesia dapat kembali hadir bersama saudara-saudara kita di Pasifik," tegas Bamsoet.

Kepala Badan Bela Negara FKPPI ini pun menilai konser The Symphony of Friendship dapat menjadi salah satu sarana untuk meningkatkan kerja sama Indonesia dengan Selandia Baru dalam konteks Pacific Engagement, terutama dalam people to people connectivity. Selain itu, konser ini juga bertujuan untuk memuluskan diplomasi Indonesia di wilayah Pasifik.

"Saya harap orkestra ini bisa menjadi jembatan antara Indonesia dan Selandia Baru dalam saling memahami dan semakin mempererat hubungan kedua negara. Kolaborasi musik ini bukan hanya sebagai ekspresi melodi dari perasaan dan komunikasi artistik di dalam pikiran namun juga sebagai jembatan untuk saling memahami peradaban dan juga menjadi simfoni dalam persahabatan warga kedua negara," pungkas Bamsoet.

Dalam kesempatan tersebut, Bamsoet pun sangat terkesan dengan diplomasi melalui musik dan kebudayaan yang disebutnya sebagai diplomasi cinta dan kasih sayang hingga ia tak lupa melantunkan pantun.

Selain Bamsoet, konser ini juga dihadiri oleh berbagai pihak seperti Duta Besar Indonesia untuk Selandia Baru Tantowi Yahya, Ketua Parlemen Selandia Baru Trevor Mallard, Anggota Parlemen Selandia Baru Maria Lubeck, Anggota Fraksi Partai Golkar DPR RI Mukhamad Misbakun dan Ahmadi Noor Supit, Anggota Fraksi Nasdem DPR RI Akbar Faisal, Anggota Fraksi PDI Perjuangan DPR RI Masinton Pasaribu, serta Staf Khusus Ketua DPR RI Yahya Zaini dan Yorrys Raweyai.

Konser yang digelar selama 90 menit ini menampilkan tiga penyanyi Indonesia, yaitu Gita Gutawa, Edo Kondologit, dan Andmesh Kamaleng. Selain itu, ada juga dua penyanyi dari suku Maori Selandia Baru, Maisey Rika dan Tama Waipara yang tampil diiringi Wellington Orchestra dengan arranger sekaligus konduktor Erwin Gutawa.

Sekitar 1.000 lebih penonton dari Indonesia, Selandia Baru, Tonga dan Samoa pun menikmati konser dua negara tersebut. Mereka bahkan ikut bernyanyi dan menari bersama tanpa sekat perbedaan negara.

Setidaknya, 15 lagu dibawakan dalam konser ini. Sebut saja, lagu asal Selandia Baru berjudul Haere Mai, Pokarekare Ana, Tangaroa Whakamautai, Hine E June, Haumanu, dan Aotearoa. Sementara lagu dari Indonesia antara lain Pangkur Sagu, Bolebo, Gemufamere, Siomama, dan Rame-Rame.

Selain itu, ada satu lagu dari Indonesia yang sangat populer di Pacifik, yakni Mimpi Sedih yang dibawakan dengan epic secara duet oleh Andmesh Kamaleng dan Tama Waipara. Lagu ini juga telah banyak diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa di wilayah Pasifik.

Di Selandia Baru, saduran lagu Mimpi Sedih diberi judul E Ipo dan dipopulerkan penyanyi legenda Selandia Baru, Prince Tui Teka. Standing applause pun membahana usai lagu Mimpi Indah dan E Po dibawakan secara bersamaan.

Seperti diketahui, Indonesia dan Selandia Baru secara etnis memiliki kesamaan rumpun sebagai bangsa Pasifik, yaitu Melanesia dan Polinesia. Indonesia adalah rumah bagi 80 persen etnis Melanesia dan Polinesia yang bertempat tinggal di Papua, Maluku, dan Nusa Tenggara Timur. Indonesia juga selama ini lebih dikenal sebagai rumpun Asia daripada sebagai rumpun Pasifik.
(mul/ega)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed