DetikNews
Jumat 09 November 2018, 17:03 WIB

Tentang Genderuwo, Makhluk Mitologi yang Suka Menakut-nakuti

Bagus Prihantoro Nugroho - detikNews
Tentang Genderuwo, Makhluk Mitologi yang Suka Menakut-nakuti Ogoh-ogoh dalam festival di Ancol beberapa waktu lalu. Ogoh-ogoh biasanya menggambarkan sosok raksasa. (Rifkianto Nugroho/detikcom)
FOKUS BERITA: Politik Genderuwo
Jakarta - Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengungkap adanya pihak yang melakukan 'politik genderuwo' yang suka menakut-nakuti. Meski tak menyebut nama, Jokowi menjelaskan apa yang dia maksud sebagai 'politik genderuwo'.

"Politikus genderuwo itu cara-cara berpolitik dengan propaganda menakut-nakuti, menimbulkan kekhawatiran, menimbulkan ketidakpastian, terakhir menjadi keragu-raguan masyarakat," kata Jokowi di lokasi peresmian Jalan Tol Pejagan-Pemalang, Jawa Tengah, Jumat (9/11/2018).



Terlepas dari pernyataan Jokowi, genderuwo adalah makhluk mitologi masyarakat lokal Nusantara. Ada banyak deskripsi mengenai makhluk ini yang diceritakan dari mulut ke mulut.

Antropolog asal Amerika Serikat Clifford Geertz mengklasifikasikan makhluk halus di Indonesia dalam 5 jenis, yakni memedi, lelembut, tuyul, demit, serta danyang. Memedi disebut Geertz adalah sejenis makhluk yang secara harfiah berarti tukang menakut-nakuti. Sedangkan lelembut adalah makhluk yang bisa membuat seseorang jadi gila dan tuyul disebut sebagai makhluk halus anak-anak.

Demit digambarkan sebagai makhluk halus yang menghuni suatu tempat. Sedangkan danyang kurang-lebih seperti demit, tapi lebih diidentikkan dengan tokoh atau leluhur yang sudah meninggal dan bertugas melindungi.

"Kepercayaan kalangan abangan di Mojokuto terhadap makhluk halus bukanlah bagian dari sebuah skema yang konsisten, sistematis, dan terintegrasi, tetapi lebih berupa serangkaian imaji yang berlainan, konkret, spesifik serta terdefinisikan secara agak tajam--metafora visual yang tidak terkait satu sama lain memberi bentuk kepada berbagai pengalaman yang kabur dan yang kalau tidak demikian, tidak akan dapat dimengerti," tulis Geertz dalam bukunya yang berjudul 'The Religion of Java' pada 1960 versi terjemahannya berjudul 'Agama Jawa: Abangan, Santri, Priyayi' yang diterbitkan pertama kali pada 1985.

Genderuwo termasuk golongan memedi atau yang tugasnya menakut-nakuti. Genderuwo adalah jenis memedi laki-laki, sedangkan untuk yang perempuan disebut 'wewe'.

"Genderuwo, jenis memedi paling umum, pada umumnya lebih senang bermain-main daripada menyakiti dan suka mengerjai manusia, seperti menepuk pantat perempuan, memindahkan pakaian seseorang dari rumah dan melemparkannya ke kali, melempari atap rumah dengan batu sepanjang malam, melompat dari belakang sebatang pohon di kuburan dengan wujud besar serta hitam dan sebagainya," kata Geertz.

Dalam penelitian Geertz, yang bersumber dari wawancara dengan penduduk lokal, genderuwo sejatinya tak punya maksud melukai. Namun ada kalanya genderuwo bisa dibilang berbahaya.

Genderuwo bisa berubah wujud menjadi manusia atau lebih tepatnya saudara yang kita kenal. Dia lantas diyakini menculik anak-anak, padahal kenyataannya tidak.

"Pada suatu hari, di daerah seberang jalan tempat saya tinggal, seorang anak hilang dan orang menduga ia telah diculik genderuwo. Lalu, orang pun pergi kian kemari membuat suara gaduh yang riuh. Ternyata anak itu membonceng kendaraan ke kota lain dekat daerah itu dan sama sekali bukan diculik makhluk halus," tutur Geertz.
(bag/imk)
FOKUS BERITA: Politik Genderuwo
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed