DetikNews
Jumat 09 November 2018, 15:28 WIB

Satpol PP Terus Sidak Toko di Bali yang Diduga Tak Berizin

Aditya Mardiastuti - detikNews
Satpol PP Terus Sidak Toko di Bali yang Diduga Tak Berizin Foto: Satpol PP sidak toko (adit/detikcom)
Denpasar - Gubernur Bali Wayan Koster menginstruksikan seluruh toko yang melakukan praktik nakal dan mencoreng citra pariwisata Bali ditutup. Hari ini Satpol PP Provinsi Bali bersama Kabupaten Badung mulai bergerak melakukan penertiban namun belum menutup usaha atau toko 'nakal' tersebut.

Lokasi sidak pertama dilakukan di sebuah biro di Jl Mertasari, Sidakarya, Denpasar, Bali. Di lokasi ini petugas tidak menemukan adanya surat izin usaha dari provinsi.

Selain itu, ada juga pria dan wanita warga negara asing asal China yang bekerja di agen tur tersebut. Menurut keterangan pemilik agen tur, Apeng Khoang pria berkewarganegaraan China tersebut merupakan pemilik dan yang wanita bekerja sebagai akunting.

"Izin lagi dari pusat pak, izin provinsi sedang diproses, soalnya agak lama pak prosesnya," kata Apeng ke petugas Satpol PP, Jumat (9/11/2018).

Anggota DPRD Bali, Ketut Kariyasa yang ikut dalam sidak tersebut menanyakan sejak kapan operasional tur tersebut. Rupanya tur tersebut sudah digelar sebelum surat izin terbit.

"Ini izinnya November baru seminggu semestinya izin dulu baru operasi?" ujar Dewa.

"Kita gimana ya, percobaan pak," jawab Apeng.

"Harusnya nggak boleh dong, izin dulu selesai baru buka toko," balas Dewa.

Tim juga memeriksa KITAS dari dua WNA tersebut dan ternyata lengkap. Namun, pria yang disebut sebagai salah satu pemilik agen travel itu belum fasih berbahasa Indonesia.

"Toko ini masuk kategori yang dilaporkan karena diduga ada pelanggaran, ada juga DPRD kita juga cek ke lapangan. Kalau memang terbukti di lapangan dia pegang perizinannya nggak bisa kita tutup. Kami belum tahu apa dia masuk kateogri yang itu (nakal) kita cek semua administrasinya dulu," ujar Kepala Bidang Trantib Satpol PP Bali, Dewa Darmadi.

Lokasi sidak kedua merupakan salah satu toko oleh-oleh khas Bali di kawasan Sunset Road, Kuta. Toko ini nampak sepi dan deretan cone pun menjadi pagar penutup toko ini. Ketika rombongan satpol PP datang, barulah cone ini dicabut.

Memasuki toko ini petugas hanya ditemui seorang pria yang mengaku sebagai sekuriti. Meski terlihat gelap, pendingin toko ini tetap beroperasi.

Memasuki toko ini terlihat banyak dipajang produk-produk untuk obat-obatan tradisional dengan tulisan Bali, Indonesia. Di antaranya mahoni, kanten, hingga salep kobra. Saat diperiksa produk-produk kemasan ini tak mencantumkan nomor register di BPOM.

Tak hanya itu, ada banyak ruangan dengan puluhan kursi, TV, dan sampel produk yang dijual toko ini. Menurut Kariyasa ruangan ini biasa digunakan untuk presentasi produk ke para turis.

"Ini ruangan yang digunakan untuk presentasi itu loh yang viral. Kalau orang nggak beli dimarah-marahin turisnya, viral banget dulu videonya," ucap Kariyasa.

Selain temuan tersebut, tim juga menemukan bukti kuitansi yang tertanggal 7-8 November 2018 serta kode QR sebagai pembayaran melalui We Chat.

"Ini kan sudah salah, harusnya toko sudah tidak beroperasi sejak tanggal 2 November, tapi ini ditemukan transaksi kemarin tanggal 8 dan tanggal 6-7," ujar Kariyasa.

Kariyasa meminta petugas Pol PP tegas menutup toko tersebut sesuai instruksi gubernur. Namun, pihak Satpol PP Kabupaten Badung sebagai petugas di lapangan menolak dan meminta waktu untuk minta klarifikasi ke pihak toko.

"Kami tidak bisa langsung segel, biar tidak salah poin. Benar Pak Gub memberikan instruksi, namun ada poin yang menyebutkan daerah diberikan kewenangan untuk mengatur sesuai SOP yang berlaku, nggak bisa pak," jelas Satpol PP dari Badung tersebut.

Dari sidak di kedua lokasi tersebut petugas Satpol PP akhirnya hanya memberikan teguran dan meminta klarifikasi. Proses selanjutnya menunggu hasil pemanggilan masing-masing pihak toko.
(ams/asp)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed